Langsung ke konten utama

Postingan

TERSANDERA TOPENG KECANTIKAN

Menjadi cantik dan rupawan itu cenderung memberi manusia banyak hak dan perlakuan yang istimewa. Karena itu, banyak orang berusaha menjadi cantik walau membahayakan nyawa. Manusia itu suka keindahan dan kecantikan. Namun, dorongan untuk terlihat cantik bisa membuat manusia melakukan hal-hal yang tidak wajar, bahkan membahayakan nyawanya. Fokus pada kecantikan fisik juga membuat banyak orang lupa untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri yang lebih memberikan makna hidup dan bermanfaat jangka panjang. Tewasnya selebgram ENS (30) setelah melakukan operasi sedot lemak di sebuah klinik kecantikan di Depok, Jawa Barat, pada 22 Juli 2024 menambah panjang daftar perempuan yang harus kehilangan nyawa karena ingin terlihat cantik. Sebelumnya, 24 Mei 2024, seorang pegawai pemerintah, PK (27), meninggal seusai menjalani filler payudara di sebuah klinik kecantikan di Sleman, DI Yogyakarta. Banyak hal berisiko lain yang dilakukan perempuan untuk terlihat cantik, mulai dari menjalani tindakan medi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...

TANPA BENDERA

Sebuah film perjuangan yang dimaksudkan untuk meneguhkan pewarisan ingatan tentang nasionalisme dan terbentuknya republik. Sebuah upaya untuk melawan lupa atas sejarah bangsa dan kebinekaan Indonesia. Hal yang membuat saya terkejut, kognitariat (pekerja otak), di belakang pembuatan film tersebut adalah Hasyim Djojohadikusumo. Ini menambah daftar panjang ”orang-orang yang tak terduga” di dalam catatan penulis. Arifin Panigoro, misalnya, secara konsisten menjadikan rumahnya sebagai pusat persemaian intelektual dan gerakan kebangsaan ketika banyak tempat diskusi menjadi layu. Pendeknya, ada orang-orang tak terduga di setiap profesi.  Seperti pengusaha, banyak pula seniman, wartawan, militer, mahasiswa, petani, buruh, intelektual, menjadi orang-orang tak terduga. Suka atau tidak, mereka adalah bagian dari anak bangsa yang begitu mencintai kelangsungan hidup Indonesia. Mereka mencintai Tanah Air merdeka. Tanpa bendera Individu-individu yang tak terduga tersebut secara umum mempunyai kar...

Mengasah Kecerdasan di Era Digital Sebagai Pembelajar Sejati

Gelombang digitalisasi telah menciptakan budaya digital dalam masyarakat kita. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kebutuhan yang mendesak. Namun, upaya untuk meningkatkan literasi digital di masyarakat tidak akan berhasil jika infrastruktur digital belum memadai. Bagaimana bisa mengajarkan literasi digital jika infrastrukturnya belum mencukupi? DQ dan In-Q Setelah infrastruktur digital mulai berkembang di era hari ini, hal lain yang perlu diperkuat adalah kesiapan masyarakat dalam mengarungi era digital. Saat ini menguasai emotional quotient (EQ), intelligent quotient (IQ), dan spiritual quotient (SQ) saja tidak cukup. Menurut Prof Nuh, ”Generasi saat ini membutuhkan dua kecerdasan lain, yaitu digital. quotient (DQ) dan Indonesian quotient (In-Q)” Pada prinsipnya, EQ, IQ, dan SQ melekat di dalam diri seseorang. Akan tetapi, DQ dan In-Q sebagai entitas ”di luar” kebutuhannya sangat luar biasa dan krusial. Karena itulah, generasi masa kini perlu menambahkan kecakapan DQ dan In-Q...

Mengkritik Budaya Outfitisme

Beberapa detik sebelum debat dimulai Nu'man kecil naik ke pentas menggantikan gurunya Imam Haman. lawan debat sekaligus penantang merasa tidak selera untuk melanjutkan debat, karena lawanya hanya seorang bocah ingusan dan tidak bersorban. Saat debat dimulai Atheist yang meremehkan si bocah harus menelan pahitnya kekalahan. Frank Abagnale berhasil menjadi Pilot, Dokter, bahkan kisahnya diangkat ke layar lebar , Catch if you can, sebagai penipu paling ulung di dunia. Hanya karena penampilanya yang begitu meyakinkan. Di sisi lain, ada seorang pria pengangguran yang berhasil meniduri perempuan cantik jelita hanya karena memakai baju Polisi. Bukan hanya itu, ada seorang dukun yang disembah layaknya Nabi, karena memakai jubah dan peci. Ternyata, penampilan telah merenggut jutaan korban !!! dan ternyata juga berkali-kali menyelematkan dari kesialan !!! Manusia berperadaban begitu membanggakan pakaiannya. Padahal di Padang Mahsyar nanti, semuanya telanjang dan tampak "Boh Lolo...

To Be A Women

Sebagian kita mungkin seringkali dihebohkan dengan kata-kata perjuangan perempuan, seperti perempuan harus diistimewakan, perempuan harus diberikan haknya, perempuan tidak boleh dijajah, perempuan itu baperan, perempuan tidak bisa berpikir logis, dan lain sebagainya. Namun, sadarkah bahwa semua itu hanya stereotipe yang jika terus di-amin-kan malah akan membawa perempuan selalu bermental korban. Seolah-olah hak perempuan begitu terasingkan dan didiskriminasi dari kehidupan bermasyarakat. Padahal jika dipikirkan dan dirasakan secara baik-baik, perempuan sejatinya adalah sosok istimewa yang haknya sudah diberikan dengan utuh tanpa perlu mengemis belas kasihan. Fakta historis membuktikan, begitu banyak tokoh-tokoh perempuan yang namanya masih harum hingga sekarang.  Betapa banyak tokoh perempuan yang menjadi sumber pengetahuan, inspirasi, dan kehadirannya menjadi penyejuk jiwa, layaknya Sayyidah Aisyah; perempuan cerdas yang menginsiprasi generasi setelahnya.  Kemudian betapa ban...

ETIKA DAN TEKHNOLOGI: MASALAH KORUPSI PROYEK NEGARA.

Pembangunan dalam suatu negara memang kerap sekali dilakukan. Seiring berkembangnya zaman semakin banyak pula berdiri bangunan–bangunan megah dengan infrastruktur yang luar biasa. Pembangunan gedung yang memerlukan dana miliaran rupiah itupun diharapkan bisa berfungsi dengan baik. Namun sayangnya para pembangun gedung itu sering menginginkan keuntungan yang lebih banyak dengan melakukan korupsi dana material gedung yang diganti dengan menggunakan material sembarangan. Tak lama setelah dinding penahananan tanah ambrol, para tukang mengatakan ambrolnya dinding ini karena kurangnya semen yang digunakan, tidak sesuai standar yang ditetapkan.  Berapa banyak bangunan yang sudah melalui proses ilmiah di tangan-tangan terampil dan berpengalaman, tetapi berbahaya jika ditangani oleh kontraktor yang tidak kompeten.  Ini tampak menjadi penjelasan atas kejadin itu. Namun, jika direnungkan kembali, kata “tidak berkompeten” sebagaimana diletakkan pada para insinyur dan kontaktor yang dimaks...