Langsung ke konten utama

Hati-hati jatuh cinta kepada "bad body"

Lelaki berkarakter ”bad boy” memang menarik. Namun, di balik pesonanya yang menggoda, luka yang diberikan pun sering kali tak terkira. Hubungan yang sehat harus dibangun atas dasar penghormatan dan kasih sayang yang timbal balik.

Sejak dulu hingga kini, dalam banyak budaya masyarakat, tipe laki-laki bad boy menjadi idaman banyak perempuan. Tingginya kepercayaan diri, dominasi, dan segala sikap yang ditunjukkan bad boy dianggap memenuhi standar maskulinitas masyarakat. Meski bad boy sering menyakiti, nyatanya banyak perempuan yang rela disakiti hingga berulang kali.

Dalam dunia hiburan, aplikasi kencan, media sosial, atau pergaulan sehari-hari, lelaki berkarakter bad boy yang sedikit urakan, apa adanya, suka memberontak, tetapi juga dominan dan misterius selalu menjadi pujaan dan diidamkan perempuan. Meski mereka tahu risikonya, pesona ”bocah laki-laki nakal” itu seringkali sulit ditolak.

Sebaliknya tipe pria baik-baik alias nice guy yang suka memberi perhatian, hangat, peduli, dan royal seringkali dianggap kurang menantang. Baik saja sepertinya memang tidak cukup menarik untuk dijadikan pasangan karena ”cowok manis” cenderung dianggap sebagai pribadi yang kurang percaya diri, peragu, dan membosankan.

Psikolog Amerika Serikat, Mark Travers, dalam tulisannya di Psychology Today, 18 September 2023, menulis sumber utama yang membuat bad boy menarik secara seksual adalah rasa percaya diri besar yang mereka pancarkan. Meski memiliki rasa percaya diri itu sejatinya sehat, mereka yang ingin menjadikan bad boy sebagai pasangan perlu membedakan antara percaya diri yang otentik atau kesombongan terselubung.

Kepercayaan diri yang otentik ditandai dengan kemandirian emosional. Pribadi yang tangguh dan tak mudah digoyahkan seringkali mengundang orang untuk mengungkap sisi lembut bad boy yang kadang sulit dipahami. Sikap bad boy yang suka memberontak, impulsif, dan keras kepala justru menjanjikan hubungan asmara yang penuh gejolak dan tidak mulus-mulus saja.

Sementara kesombongan terselubung yang tampak sebagai kepercayaan diri yang besar sejatinya justru menunjukkan bahwa mereka menyimpan rasa tidak aman. Mereka merasa tidak membutuhkan orang lain, merasa unggul dibanding yang lain, atau ingin diperlakukan khusus dan dikagumi secara berlebihan. Kepercayaan diri seperti ini sebenarnya hanyalah kedok atas narsisme yang mereka miliki.

Narsisme dapat menjadi magnet yang menarik orang lain kepada individu yang sejatinya memiliki sifat merusak. Karakter ini sangat mudah dilihat dalam konteks hubungan jangka pendek yang lebih mengutamakan sensasi ”pengejaran” calon pasangan dan kesenangan terhadap hal-hal baru daripada hubungan jangka panjang yang bermakna.

Meski bad boy terkadang terkesan rumit dengan segala kepribadiannya, justru sensasi itulah yang membuat banyak perempuan ingin mengejarnya. Mereka merasa tertantang untuk masuk dalam permainan yang menegangkan. Bahkan, bisa jadi mereka menemukan kepuasan tersendiri saat bisa ”menjinakkan” sosok yang rumit.

Cinta dan benci

Tak hanya itu, bad boy juga menarik karena adanya relasi antara cinta dan benci yang dinamis. Meski semua orang tidak suka dipermainkan atau memiliki hubungan asmara yang kacau, tarikan pikiran bawah sadar membuat kita menyukai ”kekacauan” emosional. Inilah yang membuat mencintai bad boy bisa menyenangkan sekaligus menyiksa batin.  

Selain kepercayaan diri, daya tarik terbesar dari seorang bad boy adalah perhatian dan kasih sayang yang terputus-putus setelah masa pengabaian yang menjengkelkan. Sikap manis bad boy suka meningkat tiba-tiba sesudah sikap cuek terhadap pasangannya. Perhatian terhadap pasangan yang timbul tenggelam secara bergantian itu membentuk siklus penguatan atau penghargaan psikologis yang justru membuat pasangannya sulit ”keluar” dari ketertarikan terhadap bad boy.

Perlakuan bad boy yang terputus-putus itu, seperti studi James E Effiong dan rekan Journal of Social and Personal Relationships, membentuk ikatan traumatis yang mirip dengan hubungan emosional mendalam antara korban dan pelaku pelecehan. Ikatan traumatis itu memberikan perasaan campuran antara penghargaan dan hukuman yang tidak terduga serta menciptakan ikatan emosional rumit yang sulit diurai. Meski menyakitkan, dinamika antara cinta dan benci dengan bad boy itu bisa membuat banyak wanita terjerat.

Selain itu, bad boy juga menarik karena love bombing yang ditujukan kepada pasangannya. Bombardir cinta itu adalah sebuah teknik manipulatif untuk menunjukkan kepada pasangannya bahwa sang bad boy itu seolah-olah penuh perhatian, peduli, dan protektif walau sejatinya dia sedang menyembunyikan sikap agresif, suka mengontrol, sembrono, dan juga posesif.

Meski bad boy seolah-olah terlihat mengejar seorang perempuan, bisa jadi tindakan itu dilakukan untuk mencegah perempuan tersebut mempertanyakan atau meragukan cintanya. Dengan sangat cekatan, bad boy bisa membuat pasangannya lupa atas ketidakhadiran, pengabaian, dan ketidakpedulian yang pernah ditunjukkannya.

Bad boy juga jago meyakinkan pasangannya. Kata-kata manisnya dengan mudah mengalihkan fokus pasangannya sehingga pasangan tersebut kesulitan untuk membingkai hubungan dan keluar dari siklus antara penghargaan dan hukuman yang dirasakan. Pada ujungnya, sang pasanganlah yang akhirnya merasa bahwa diri merekalah yang membutuhkan bad boy.

Pola relasi ini akhirnya menghasilkan tarik-menarik dalam hubungan yang panjang antara bad boy dan pasangannya. Tak jarang, proses ini juga menghasilkan hubungan yang putus-nyambung yang menunjukkan adanya ketidakpastian, stres, dan pembaruan hubungan (siklus putus cinta-rekonsiliasi) yang berlebihan.

Karena itu, meski bad boy menawan, hubungan yang sehat harus dibangun atas penghormatan dan kasih sayang yang resiprokal, saling berkebalikan, bukan sekadar manipulasi untuk memenuhi ego diri. Bijaklah dalam urusan hati dan jangan mau dibajak oleh emosi, apalagi untuk urusan yang diharapkan langgeng sampai mati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...