Langsung ke konten utama

KITA BUKAN MAKHLUK SEMPURNA

Hidup ini tidak pernah sempurna, dan kita telah mengetahui dan menerimanya. Meski demikian, ada saat-saat, atau situasi, kita sangat bersusah hati akibat persoalan yang sangat sulit kita terima. Situasi tersebut dapat berbeda bagi satu dan yang lain. Misalnya, ditipu dan diselingkuhi orang terdekat, atau tidak memperoleh layanan kesehatan secara baik saat mengalami sakit serius.
Ada pula yang soalnya sebenarnya tidak langsung mengenai diri sendiri. Mungkin hal tersebut terjadi di lingkungan kita meski tidak langsung berkait dengan kita. Atau, sebenarnya terjadi di lingkaran lain, tetapi karena melanggar nilai-nilai yang kita junjung tinggi, jadi mengganggu perasaan kita. 
Melihat orang lain diperlakukan tidak adil meski kita tidak mengenal orang itu dapat membuat sebagian kita merasa sangat susah hati. Banyak lagi yang lainnya. Misalnya, melihat kesulitan hidup orang banyak di jalanan, atau membaca berita korupsi, nepotisme, dan ketidakadilan hukum.
Dampaknya pada kondisi fisik dan psikis kita dapat sedemikian rupa. Sampai kita merasa lemas, tidak berdaya, kelelahan, tidak fit, sulit berkonsentrasi, skeptis, atau sulit mengelola rasa marah. Akibatnya, ketenangan hidup dan kelancaran pekerjaan terganggu, bahkan kita dapat berkonflik dengan orang dekat, khususnya bila ada perbedaan pendapat dalam menilai situasi.
Mengingat hidup berjalan terus, agar dapat menjalaninya, mau tidak mau, kita perlu berdamai dengan ketidaksempurnaan hidup. Untuk itu diperlukan penerimaan, strategi penguatan diri, dan perawatan diri sendiri. 
Yang dapat dikendalikan
Salah satu cara mengatasi yang terpenting adalah memfokus pada yang dapat kita kendalikan. Terkait hal yang sulit kita terima tersebut, adakah yang dapat kita lakukan? Bila menyuarakan kekecewaan dan mengusulkan suatu perubahan, siapa yang bersedia mendengarkan dan memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan? Bagaimana cara menjangkaunya dan meyakinkannya? Atau tampaknya suara kita hanya akan memunculkan masalah baru bagi diri sendiri dan lingkungan terdekat?
Bila tindakan besar tidak mungkin dilakukan, tindakan-tindakan kecil mungkin dapat membuat kita merasa sedikit berdaya. Hal itu tidak harus langsung terkait dengan persoalan yang mengganggu kita, tetapi kita alihkan pada hal-hal yang lebih mampu kita lakukan atau lebih kita kuasai. Misalnya menyuarakan nilai-nilai yang kita anggap penting di lingkungan yang dapat kita jangkau. Karena kita ingin memastikan kepedulian generasi kita selanjutnya, kita menyampaikan kepada anak atau orang-orang muda di sekitar kita tentang perlunya bersikap peduli dan jujur, dan memberikan contoh nyata tentang hal tersebut.
Menjaga diri
Hal lain yang dapat membantu kita adalah mengambil jarak emosional. Untuk sementara waktu, demi menata emosi dan kestabilan diri, kita tidak bersedia membahas topik tertentu dengan orang-orang tertentu, tidak membaca koran, dan tidak mengikuti berita di sosial media. Bila sosok tertentu membuat kita merasa sangat tidak nyaman, untuk sementara waktu kita menghindar dari bertemu dengan orang tersebut.
Dalam situasi yang melelahkan hati, merawat diri menjadi prioritas. Kita dapat melakukan hal-hal yang sederhana saja untuk menurunkan stres. Misalnya meluangkan waktu untuk dapat berada di tengah alam, mengerjakan hobi atau hal-hal lain yang disukai.
Perasaan marah merupakan suatu respons alamiah terhadap perasaan tidak berdaya. Di satu sisi, perlu diingat bahwa perasaan marah tidak jarang menghadirkan masalah-masalah baru ketika kita tidak dapat mengelola atau mengekspresikannya dengan baik. Di sisi lain, menghayati rasa marah adalah sangat manusiawi. Perasaan marah menjadi sumber energi untuk dapat melakukan tindakan perubahan.
Tentang penerimaan
Bila kita tidak mampu mengubah situasi, penerimaan menjadi hal penting. Menerima bukan berarti menyetujui, melainkan menyadari bahwa ada hal-hal yang di luar kekuasaan kita. Berdamai dengan fakta bahwa hidup itu tidak sempurna dapat membantu kita bersikap lebih tenang. Kita diingatkan untuk dapat menghadapi tantangan dengan sikap lebih terbuka dan strategis, luwes, tetapi tetap tangguh.
Kita paham bahwa (untuk sementara waktu) kadang kita perlu bersikap realistis karena berbagai alasan. Misalnya, kita memiliki tanggungan kewajiban. Atau bila kita menyampaikan perlawanan terbuka, tindakan kita akan merugikan pihak-pihak lain yang tidak bersalah yang akan terbawa-bawa dan terkena dampaknya.
Tentang penerimaan ini tampaknya kita tetap perlu berhati-hati dan menjaga kejujuran pada diri sendiri, khususnya bila hal-hal yang tak semestinya tersebut terjadi di lingkungan kita sendiri. Benarkah kita sungguh tidak dapat mengubah situasi? Ataukah sebenarnya kita mencari cara yang mudah saja untuk mengamankan posisi diri sendiri, bahkan ikut andil dalam memantapkan terjadinya hal-hal buruk dengan mencari-cari alasan pembenaran?
Dalam situasi yang sulit, menemukan kedamaian hati sering memerlukan penyeimbangan antara penerimaan terhadap situasi dan tindakan nyata untuk melakukan perubahan. Bila tak ada penyeimbangan tersebut, yang terjadi adalah penguatan apatisme dan ketidakpedulian serta penumpulan hati nurani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...