Langsung ke konten utama

MENGAPRESIASI PRESTASI BUKAN SENSASI

Indonesian Television Awards setiap tahun memberikan penghargaan kepada program-program televisi terbaik yang menjadi favorit penonton. Tak hanya itu, terdapat juga acara penghargaan di bidang film yang menghargai karya film serta para aktor, aktris, dan sutradara terbaik. Selain itu, di negara-negara lain, diselenggarakan Music award yang bertujuan untuk mengapresiasi para musisi atas kontribusi mereka dalam menciptakan karya lagu dan video klip yang luar biasa. Semua penghargaan ini memancarkan semangat apresiasi dan pengakuan akan karya-karya luar biasa yang telah dihasilkan di dunia hiburan.

Berbeda dengan acara penghargaan pada umumnya yang dipuji dan diapresiasi. Silet Award justru mendapat reaksi negatif dari masyarakat dan menimbulkan kegeraman di kalangan banyak netizen. Hal ini disebabkan oleh beberapa nominasi yang membingungkan para penonton. Salah satunya adalah kategori "Kehidupan Tersilet".

Berbagai kritik dari rekan-rekan sesama artis karena dianggap sebagai ajang yang mempublikasikan masalah pribadi sebagai bentuk prestasi, bukan sebagai penghargaan atas karya yang telah dihasilkan oleh artis tersebut. Salah satu artis yang saat ini sedang menghadapi dugaan perceraian karena adanya tuduhan perselingkuhan dari suaminya. Masalah pribadinya telah menjadi sorotan dan menarik perhatian banyak orang, sehingga banyak masyarakat yang menjadi tahu tentang masalah rumah tangganya.

Tentu saja, masalah ini justru membuat stasiun-stasiun TV mengundangnya untuk berbicara tentang masalah pribadinya atau aib yang sedang ia hadapi. Alih-alih menanyakan tentang karya-karya yang telah ia hasilkan atau rencana karya kedepannya. Berita-berita saat ini selalu fokus pada perceraiannya dengan segala peristiwa yang dialami, akhirnya ia berhasil meraih gelar sebagai artis dengan kehidupan yang menjadi sorotan.

Tulisan ini bukan untuk mendeskreditkan perempuan single parent. Mereka tetap luar biasa karena mampu mandiri menjadi tulang punggung keluarga. Hanya saja dalam situasi seperti ini, sungguh sangat menyedihkan, karena masalah pribadi yang seharusnya dijaga kerahasiaannya kini menjadi konsumsi publik dan bahkan diakui dengan penghargaan. Pertanyaannya adalah bagaimana dampaknya bagi para penonton? Apakah nominasi dengan permasalahan semacam itu dapat menjadi contoh yang baik bagi anak-anak yang menonton? Apakah hal tersebut bisa menjadi pemicu semangat dalam menghasilkan generasi muda yang kreatif dan berprestasi?

Sebenarnya banyak artis dan influencer telah menciptakan banyak karya di bidang menyanyi, menari, desain, atau memiliki pengaruh yang besar. Penghargaan ini menjadi dorongan bagi penonton untuk mengikuti jejak mereka dalam menciptakan karya dan meraih prestasi.yang patut dihargai dengan penghargaan. Sebagai contoh, ada Putri Ariani, seorang artis cilik yang membanggakan Indonesia. Ia merupakan seorang anak dengan disabilitas yang telah berhasil mengukir prestasi internasional melalui keikutsertaannya di acara "America's Got Talent". Keberhasilannya ini menjadi contoh positif bagi anak-anak bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih impian, bahkan hingga tingkat internasional.

Selain itu, ada Maudy Ayunda, Cinta Laura, Dian Sastro, isyana sarasvati yang layak masuk nominasi sebagai contoh aktris yang memiliki perhatian terhadap pendidikan. Keduanya memberikan inspirasi positif bahwa walaupun sibuk, pendidikan tetap menjadi hal yang penting. Bahkan, kedua artis ini berhasil menyelesaikan kuliah di luar negeri dengan prestasi yang membanggakan Indonesia. Mereka tetap produktif dalam menciptakan karya-karya berarti meskipun mengejar pendidikan.

Mari kita bangun budaya yang mendukung dan meningkatkan jumlah penonton untuk artis-artis yang menghadirkan konten positif dan bermanfaat. Berikan panggung kepada mereka untuk terus menciptakan karya dan meraih prestasi, daripada memberikan perhatian kepada orang-orang yang hanya mencari sensasi dengan membuka aib pribadinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...