Langsung ke konten utama

MUSLIMAH TANGGUH ANDALAN RASULULLOH SAW

Perempuan selalu berperan aktif dan memegang peran sentral bukan hanya dalam lingkungan keluarga, tetapi juga dalam masyarakat dan komunitas di sekitarnya. Islam telah memberikan hak-hak istimewa kepada perempuan, yang tidak pernah diperoleh di bawah sistem agama atau konstitusional lain sebelum masa Islam. Salah satu contoh perempuan yang menginspirasi tangguh andalan baginda

Prestasi muslimah yang satu ini dalam bidang medis dan sosial pada masa awal Islam sangat terkenal, dan dia diakui sebagai perawat Muslim perempuan pertama. Ia menjadi salah satu dari sekian orang pertama di Madinah yang memeluk agama Islam. Bersama dengan perempuan Anshor lainnya, dia turut berperan dalam menyambut Baginda Rosululloh Saw ketika beliau tiba di Madinah.

Banyak perawat perempuan dalam hal empati dan kemampuan organisasi yang baik menjadikannya sebagai sosok teladan. Dengan keahlian klinisnya, dia mengajarkan perempuan lain untuk menjadi perawat dan berkontribusi di bidang perawatan kesehatan. Selain itu, dia juga terlibat dalam pekerjaan sosial, membantu mengatasi masalah sosial yang terkait dengan penyakit.

Muslimah satu ini lahir dalam Previlege berasal dari keluarga kaya, memiliki hobi menulis dan membaca. Sosoknya termasuk di antara orang-orang yang pertama yang masuk Islam dari kalangan Anshar di Madinah. Ayahnya seorang dokter dan juga mentornya. Dari ayahnya lah dia mendapatkan pengalaman klinis. Dia juga menjadi seorang praktisi penyembuhan yang terampil. Dia mengaplikasikan keahliannya di rumah sakit lapangan yang didirikannya di tenda selama berbagai pertempuran. 

Kemahirannya terlihat menonjol pada saat peperangan Badar, Uhud, dan Khandaq serta Khaibar. Para sahabat yang terluka mendapatkan perawatan yang cukup memadai dan baik. Ia meminta izin kepada Baginda Rosululloh SAW untuk menggalang para muslimah agar bisa berada di barisan belakang untuk mengantisipasi para sahabat yang terluka dan memerlukan bantuan medis . Seusai perang pun beliau mendirikan tenda di sekitar Masjid Nabawi untuk menangani para korban perang yang memerlukan perawatan lanjutan dan intensif.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab 'al-Ishabatu fi Tamyizi' juga menceritakan, ketika perempuan tangguh ini melihat panah yang tertancap pada dada Saad. Dia tidak langsung menarik panah tersebut, ia menghentikan pendarahan terlebih dahulu. Karena apabila dicabut, maka darah yang keluar tak bisa dihentikan dan dapat mengancam nyawa. Kemampuannya sebagai seorang perawat tak perlu diragukan lagi. Ia merupakan perawat terkenal di zaman nabi. 

Atas peran dan kontribusinya dia mendapat kehormatan dan penghargaan yaitu berupa pemberian kalung dari Baginda Rosululloh SAW. Dia sangat tersanjung dengan sikap Baginda Rosululloh SAW. Ia mengatakan kalau kalung itu tidak terpisah dari jiwanya, baik dalam keadaan tidur maupun bangunnya. Ia juga berpesan saat kewafatannya kelak, ia ingin kalung tersebut turut dikuburkan bersamanya. Dalam hasil pembagian rampasan perang, beliau menempatkan Rufaidah sebagai Mujahid yang turut berperang seperti halnya laki-lak


Pujian dilayangkan kepadanya karena mengabdikan seluruh hidupnya untuk merawat mereka yang sakit dan sekarat, serta memberikan edukasi kesehatan kepada penduduk di kotanya. Dia digambarkan sebagai sosok yang memiliki kesabaran, kebaikan hati, dedikasi, dan komitmen yang tinggi. Salah satu artikel menyimpulkan, "Perempuan ini dengan penuh dedikasi menjalani hidupnya untuk mengembangkan dan meningkatkan perawatan. Dia berhasil membangun aturan dan tradisi baru sebagai landasan untuk perawatan yang lebih baik."

Agar tidak penaasaran, beliau adalah Rufaidah Al-Aslamiyah Perawat Tangguh Andalan Baginda Rosululloh SAW.

Karyanya bisa abadi hingga kini lintas generasi. Hal itu dibuktikan dengan berdirinya sebuah bangunan di Universitas Aga Khan di daerah Pakistan yang terkenal di bidang keperawatan dan kebidanan yang diberi nama Rufaida Al-Aslamia. Setiap tahun, University of Bahrain memberikan Penghargaan Rufaida Al-Aslamia yang bergengsi di bidang keperawatan. Di Royal College of Surgeons in Ireland (RCSI) di University of Bahrain, penghargaan yang sangat diinginkan yang diberi nama Rufaida Al-Aslamia Prize diberikan kepada seorang mahasiswa. Pemenang penghargaan ini, yang ditentukan oleh panel staf medis klinis senior, adalah mahasiswa yang secara konsisten memberikan pelayanan perawatan yang luar biasa kepada pasien.

Islam adalah agama yang cerdas dan mencerdaskan. Salah satunya adalah Rufaidah Al-Aslamiyah, seorang perawat pertama dalam sejarah dunia Islam. Ia hidup di zaman Rasulullah SAW membantu para tantara Muslim mengobati luka akibat peperangan. Ia menggagas sekolah keperawatan yang menjunjung tinggi pendidikan perempuan dan mendedikasikan dirinya sepenuh hati dengan loyalitas tinggi. Rufaidah adalah sosok seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Ilmuwan muslimah ini penting untuk diketahui kehebatannya oleh perempuan hari ini yang hobinya atlet rebahan, dikit-didit mageran.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...