Langsung ke konten utama

PEREMPUAN DALAM ANCAMAN

Perkembangan digitalisasi terus alami disrupsi, dengan begitu cepat menembus berbagai lini, terdapat berbagai segmentasi arus informasi berkeliaran di beranda-beranda tak bisa dibendung. Hal ini berimplikasi pada cara pandang manusia abad Milenial, akan tidak ada sekat dan batasan antara mereka yang elit dan Alit, antara orang desa dan orang kota, antara yang miskin dan yang kaya harta, dan antara mereka yang berpendidikan dan buta huruf, begitu juga para perempuan dan wanita.

Dampak perubahan teknologi yang terus mengalami perkembangan-perkembangan di setiap saat dan waktu, bisa merubah tatanan-tatanan cara berpikir, cara berpakaian, dan cara bersosial. Begitu juga para perempuan masa silam sebelum hadirnya teknologi, sebelum hadirnya Handphone Android. Dampak dari globalisasi memperlihatkan dua dimensi yakni, economic-corporation globalization dan political- state globalization. Implikasi tersebut membawa keterpurukan dalam berbagai dimensi. Termasuk di dalamnya keikutsertaan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. 

Perempuan memang mempunyai ciri khas yang berbeda, terspesialisasi dalam bentuk pekerjaan unik yang berbeda. Ditambah sangat berbeda dengan seiring bertambahnya fitur fitur penawaran teknologi yang terus silih berganti setiap hari. Hal ini mempengaruhi adopsi, persepsi, dan edukasi seorang masa kini. 

Tentang Wanita Dalam Ancaman; Perspektif Fenomenologis Kekinan; hal ini berawal dari hasil penelitian kecil kecil dan pengamatan, terhadap berbagai wanita yang terlihat didepan kasar mata. Bahwa salah satu impikasi dari berkembangnya teknologi dan internet, banyak para wanita akhir-akhir ini tidak Percaya Diri (PD) dengan apa yang dimiliki, padahal setiap insan mempunyai potensi dan kelebihan tersendiri, karena memang semua yang lahir kemuka bumi sepaket dengan kelebihannya. Hal ini menyebabkan para kaum hawa mengikuti tren kekinian, sesuai dengan hasil browsing di internet atau para artis slegram yang menjadi idolanya. 

Dan tidak sedikit juga banyak para wanita terjebak memilih hal yang tidak bisa dipilih. Perkara hitam, putih, bulat, sipit, mancung, pesek, lurus, memang pemberian dariNya, hal hal pemberian terbaik dari Alloh sebenarnya mereka syukuri dan nikmati, dengan cara mengikuti perintah dan tatananNya. hari ini mereka paksa dengan cara menghalalkan segala cara, agar terlihat sempurna menurut persepsinya. 

Bagi wanita yang tidak mempunyai filter saat bermedia sosial, bisa-bisa menjadi target pashion kekinian. Seperti suntik silikon, operasi plastik, suntik pemutih, suntik lemak, pil gemok, peninggi badan hingga menghabiskan biaya dan waktu yang tidak sedikit. 

Fashion kekinian juga sukses meyakinkan wanita hari ini. Mereka rela menggunakan pakaian minim, padahal tahu berpotensi besar diganggu laki-laki hidung belang. Mereka rela menggunkan celana ketat, padahal tahu tidak nyaman dan bisa merusak organ reproduksi. Wanita juga rela menggunakan sepatu heels, padahal mereka tahu akan menimbulkan rasa sakit dan harus berjalan hati-hati. Ia juga lebih suka menunjukkan lekuk indah tubuhnya pada ajnabi. Lebih suka bermain cinta hinnga melepaskan kehormatannya, atau lebih sibuk mempercantik tubuhnya daripada mempercantik otaknya. 
Betapa sangat beruntung wanita yang terhindar dari eksploitasi keindahan tubuhnya di sosial media. Meskipun dengan hijab sederhana, tidak usah ambil pusing tujuh keliling mengikuti perkembangan fashion terbaru, karena keindahan wanita pada hakikatnya menjadi indah di mata Alloh SWT, bukan dengan menahan sakit untuk kelihatan indah di depan manusia.   
Disadari atau tidak, wamita hari ini juga tengah mengalami doktrin pelemahan dirinya sebagai sendi agama. Wanita digambarkan menjadi sosok yang cengeng, seperti adegan dalam Film berlari-lari sambil berderai air mata, memeluk kekasihnya di bandara. Murung di kamar menangis sejadi-jadinya, tidak mau makan, tidak mau keluar kamar hingga berujung sakit karena diputsin pacar. 
Bukan hanya itu, wanita selalu digambarkam menjadi sosok yang lebih suka Hufan (senang-senang) belanja di mall atau sekedar nongkrong di cafe dengan penampilan ayu, harum, mempesona, gaun berkibar, kulit glowing, alis melengkung indah, pipi merona, muka halus. Tanpa sadar, hal ini mengalihkan dari potensi besar yang ada dalam dirinya; sebagai madrasah terbaik untuk anak-anaknya. 
Wahai wanita aset agama dan bangsa. Perkara kecantikan akan berakhir di masa senja nanti. Namun, karya dan kemenfaatan akan abadi, bahakan setelah engkau tidak ada di bumi. Ketahuilah ! kelak di hari perhitungan tidak ada pengelompokan manusia berdasarkan bentuk hidung, langsing gemuk, putih hitam. Tidak ada yang peduli soal rupa bagaiamana bentuknya.

Moh Toyyib Zaen 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...