Langsung ke konten utama

MEMAKNAI KONSEP KECANTIKAN

Perihal kecantikan di dunia apakah menguntungkan atau merugikan?

Dewasa ini manusia terjebak perihal cantik jika muka mulus, alis melengkung, gincu tebal lengkap dengan semua kosmetik kecantikan yang menempel di kulitnya. 

Perempuan cerdas berbudi luhur tak berubah cantik jelita secara kasat mata. Begitupun perempuan Good looking yang penuh kemaksiatan tak berubah menjadi borokan. Seperti pembunuh berantai bisa saja berwajah penuh kelembutan. Begitu juga, seorang ahli ibadah bisa saja berwajah preman. 

Fenomena seperti ini sebenarnya menguntungkan keduanya; pelaku kebaikan dan kejahatan. Kok bisa?
Orang ahli berderma, bisa lebih menjaga keikhlasan karena tidak berubah rupawan. Orang yang banyak maksiatnya, punya kesempatan bertaubat karena tidak berubah kudisan. Iyakan? 

Selama di bumi, Alloh sudi menutup aib hambaNya. Menunggu dan memotivasi agar segera bertaubat. Tapi apa yang terjadi? Mereka tidak menyadari kesempatan di atas. Malah lebih memprioritaskan kecantikan wajahnya daripada kecantikan akhlaknya. 

Ada yang rela merogoh kocek puluhan hingga ratusan juta untuk mengubah bentuk wajah agar sesuai standar definisi cantik. Ada pula yang menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk merias wajahnya dengan puluhan kosmetik. Sedangkan di depan suaminya tampil apa adanya. Hadduuh

Hati-hati dalam memaknai konsep rupa. Kelak, cantik tidak lagi sesuatu yang bisa diberikan. Mereka yang punya wajah good looking dan berseri-seri ialah perempuan yang sholehah. Konsep kecantikam yang sesungguhnya ialah mereka yang memancarkan kecantikannya dari hatinya, bukan wajahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

USIA PRODUKTIF HANYA SEKEDAR NAMA

 Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...