Langsung ke konten utama

USAHA LEANIR DENGAN HASIL

Tulisan ini termotivasi dari dauhnya Dr Sokhi Huda salah satu Dosen Uinsa Surabaya, "Setiap hasil akan leanir dengan pekerjaan yang kita kerjakan." Sebuah pribahasa yang menjadi boster teman-teman mahasiswa untuk terus belajar mengeksplor potensinya. 

Hal yang menakjubkan dari sebuah gemilang dalam pribadi manusia pasti tidak lepas dari proses kehidupan yang sudah ditempa. Kalau hanya mendengar kepopulerannya saja, mungkin seseorang ingin menjadi seperti orang sukses yang namanya sudah melejit. Tapi setelah mendengar susah payahnya, lelah letihnya, berapa uang yang sudah dikeluarkan, berapa waktu masa muda yang sudah dihabiskan untuk belajar, mencari pengalaman dan membangun relasi. Setelah mendengar bagaimana penempaannya menjadi sebuah permata, mungkin ia tidak akan berharap menjadi sepertinya.

Penikmat sejarah hanya membaca Kholid bin Walid sukses memimpin pasukan dan tidak pernah kalah di Medan perang, tapi pernahkah mereka tahu, bagaimana Kholid bin Walid menempa dirinya. Jadi segila apa Kholil Bin Walid berlatih pedang, berkuda, memanah dan bela diri? Pernah dalam perang mu'tah Kholid bin Walid setiap posisi pemanah, penghunus dan berkuda diputar-putar silih berganti, berarti secara tidak langsung setiap pasukan harus menguasai tiga kemampuan di atas. 

Saat peperangan Uhud, tentara Islam harus menelan pengalaman pahit karena kalah dengan pasukan musuh, yakni Kholil Bin Walid yang kala itu Cahaya Islam masih belum menyentuh hati sang pedang Alloh. Tercatat dalam sejarah, pasukan musuh yang dipimpin oleh Kholid meraih kemenangan karena strategi serangan balik dari atas bukit Uhud. Padahal kala itu kemenangan hampir di tangan kaum muslimin, tapi itulah Kholid sang legenda miliater yang tidak pernah habis dengan taktik jitu melumpuhkan rivalnya. 

Satu hal yang membuat seonggok daging ini penasaran, bagaimana Kholid bin Walid mempelajari strategi perang, bagaimana instingnya yang jenius dalam mengambil keputusan dalam waktu genting. Sudah berapa waktu istirahatnya ia pakai untuk berpikir, berkontemplasi, melakukan riset mendalam demi menciptakan strategi perang terbaik. 

Sa'ad bin Abi Waqosh adalah deretan sahabat Nabi yang terkenal di berbagai pertarungan di Medan perang. Terlebih setelah Sa'ad bin Abi Waqosh dan pasukannya menaklukan Irak dan membebaskan Kota Kisra (Persia). Namun siapa sangka kepiawaian dalam memanah ternyata tersimpan cerita yang sangat memperihatinkan. Saat tangannya penuh darah, ototnya keram, kulitnya terbakar matahari, tangisnya di malam hari karena tak kunjung mahir. 

Usaha yang tidak kenal kata lelah, terus berlatih menjadikan Sa'ad bin Abi Waqosh pemanah ulung yang lesetan panahnya tidak pernah meleset. Hal itu karena sudah berlatih melesetkan anak panah tanpa kenal lelah.
 
Atau seperti Khabib Nurmagomedov yang rekor kemenangannya tidak main-main, 29-0 yang artinya 29 kali menang tanpa kalah di dunia tarung bebas. UFC pun menyematkannya sebagai pound-for-pound (P4P) alias petarung terhebat. Namun siapa sangka, di usia 9 tahun dia ditantang untuk bertarung dengan beruang. Kira-kira berapa kali menahan sakitnya akibat tindihan beruang. Kira-kira berapa kulitnya terluka karena cakaran beruang. Kira-kira berapa kali dia melawan rasa malah saat ayah menyuruhnya berlatih. Berapa kali ototnya cedera dan Patah tulang? 

Setiap manusia memang mempunyai cara-cara tersendiri untuk mengasah potensi yang dimiliki. Tidak harus bertarung dengan beruang, bertalatih perang seperti Kholil Bin Walid dan berlatih memanah siang dan malam seperti Sa'ad Bin Waqosh. Tapi pertanyaan besarnya. Sudahkah manusia modern hari ini sudah melatih kemampuannya seperti mereka? 

Mari mencoba seperti mereka dengan cara kita. Agar potensi yang dimiliki saat ini bisa menggaungkan nilai-nilai Islam dan meluaskan kemenfaatan untuk sesama. Potensi yang kelak akan melejitkan derajat kita di sisi-Nya. 

UINSA Surabaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...