Langsung ke konten utama

RIDHO SEORANG IBU YANG SELALU DIRINDU

Hikayah ini sudah tidak asing lagi di telinga. Bagaimana sosok pemuda tangguh yang namanya tidak terkenal di dunia, tapi di langit semua malaikat, bidadari dan semua makhluk langit membicarakan sosok beliau yang begitu sangat tinggi derajatnya. Beliau adalah Uwais Al-Qarni. 

Uwais Al-Qorni pernah dicap gila oleh orang-orang di sekitarnya, karena setiap hari beliau menggendong lembu di atas punggungnya, manaiki dan menuruni sebuah bukit. Mereka yang awal mulanya mengejek terkejut ketika mengetahui alasan kenapa Uwais Al-Qorni bertingkah aneh. Ternyata, uwais sedang melatih dirinya agar kuat menggendong ibunya yang sakit-sakitan menempuh perjalanan jauh dari Yaman ke Mekkah, demi melaksanakan ibadah haji ke Baitulloh. 

Ketika Uwais dan ibunya tiba di depan Ka'bah, ibunya meneteskan air mata haru bercampur suka cita. Lantas Uwais-pun berdoa, "Ya Alloh ampunilah segala dosa ibuku." Ibunya-pun bertanya, "Bagaimana dengan dosamu nak?" Uwais-pun menjawab, "Dengan terampuninya dosa ibu, ibu akan masuk surga. DAN CUKUPLAH RIDHO DARI IBU YANG AKAN MEMBAWAKU MENUJU SURGA. 

Jasa seorang ibu sungguh luar biasa, perjuangannya tidak bisa ditebus dengan apapun. Dialah pahlawan peradaban, seorang wanita yang mempunyai jasa besar terhadap masa depan suatu negara, agama dan dalam segala sektor. Dalam sebuah Hadist Rosululloh Saw disebutkan. Ketika ada sahabat bertanya, "Wahai Baginda, siapakah orang yang berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? Rosululloh Saw menjawab, "Ibumu". Pertanyaan tersebut ditanyakan sampai tiga kali dan jawabannya masih sama. Yakni "Ibumu". Seorang anak laki-laki ataupun perempuan yang masih belum mempunyai suami harus menghormati dan wajib mendahulukan kepentingan orang tua daripada kepentingan lain. Terutama kepada orang tua Perempuan. 

Kerindhoan seorang ibu bisa mengantarkan kesuksesan dari apa yang dikerjakan, karena dia-lah pusaka paling ampuh dimiliki oleh seorang anak. Maka ketika seorang ibu sudah kembali ke haribaan pusakanya yang ampuh melalui doa-doanya yang mustajabah juga hilang. Kemuliaannya disebutkan dalam hadist; 
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah ada pada ridha kedu
 orang tua dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua." Dalam Hadits yang lain Rosululloh Saw juga menyampaikan: 
الْجَنَّة تَحْت أَقْدَام الْأُمَّهَات 
“Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Memang semua itu sudah menjadi anugerah yang Alloh SWT berikan kepada perempuan. 

Memberikan penghormatan dengan totalitas kepada seorang ibu merupakan nikmat terbesar bagi seorang anak. Bagaimana yang sudah terjadi kepada seorang tokoh yang disebut di atas Uwais Al-Qarni, karena totalitasnya berkhidmah kepada ibundanya Rosululloh Saw pernah bercerita tentang Uwais Al-Qarni. 

Padahal waktu itu Rosululloh Saw belum pernah berjumpa sekalipun dengan Uwais Al-Qarni. Begitupun Uwais Al-Qarni belum pernah melihat wajah agung Baginda Rasululloh Saw. Tetapi Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali terpana mendengar cerita dari Baginda Rasululloh tentang kesibukan Uwais Al-Qarni melayani ibundanya. Bahkan Rosululloh berpesan, "Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun kepada Alloh SWT untukmu, maka lakukanlah." 

Ibu menjadi pahlawan dengan berbagai pengorbanannya. Mulai sejak mengandung, melahirkan, menyusui, mengajarkan arti kehidupan dan segala-galanya. Maka kemudian benar apa yang dikatakan oleh - JS Khairen - Dalam Novel "Kami Bukan Generasi Bacot" Sejauh apapun kau mengejar kesuksesan, doa orang tua adalah peta untuk pulang. Sebesar apapun impian
sebesar apapun harapan tidak bisa meraihnya tanpa keridhoan seorang ibu. Karena ridho-nya wahai ibu yang selalu dirindu. 

Catatan Mtz
26 Dzul Hijjah 1443 H. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...