Langsung ke konten utama

JIHAD SANTRI DI ERA DIGITALISASI

Bismillahirrahmanirrohim. Segala puji kepada Gusti Alloh SWT, pemilik alam semesta, terima kasih tak terhingga atas segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya; nikmat sehat jasmani dan nikmat sehat rohani, sehingga bisa menyelesaikan buku yang sedang ada di tangan pembaca. 

Buku dengan judul "JIHAD SANTRI DI ERA DIGITALISASI" merupakan buku pertama yang disusun jauh dari kata sempurna. Penulis memilih kata pertama "Jihad" agar orang-orang tidak anti dengan kata tersebut yang sering disandingkan dengan perang dan bom di mana-mana. Padahal arti "Jihad" dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah usaha dengan segala upaya mencapai kebaikan, bukan angkat senjata dan nuklir dilempar seenak jidatnya. Sebanarnya kata "jihad" sudah tidak asing lagi bagi kaum santri, mereka berjihad dengan cara menelaah karya-karya ulama salaf serta melestarikan pemikiran dan ilmunya pada abad modern ini. Pagi, sore dan malam hari kaum santri berjihad melawan rasa malas, ngantuk dan penyakit hati lainnya mereka perangi.

Para Ulama yang abadi namanya selaras dengan karyanya, menorehkan apa yang terjadi di zamannya agar bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya, yakni dengan cara menulis hingga menjadi sebuah karya. Sebagaimana diketahui, ulama salaf yang namanya abadi dalam lembaran-lembaran kertas, tidak lain karena berjihad menuntut ilmu dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan mereka harus meninggalkan tanah kelahirannya demi berjihad melawan kebodohan dan keangkuhan, sehingga mereka menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi. Dari tangan-tangan sucinya lah karya-karya fenomenal itu dilahirkan dan bisa dinikmati hingga kini. 

Sudah menjadi rahasia umum, para ulama menikah di usia lanjut. Seperti yang terjadi kepada Imam Ahmad Bin Hambal. Mengutip dauhnya Imam Ibnu Al-jauzi dalam kitab Qimatus Zaman "Sebaik-baiknya penuntut ilmu di zaman ini jika hendak menikah mengikuti jejak Imam Ahmad Bin Hambal yang menikah di usia 40 tahun." Bahkan sebagian ulama besar sekaliber Imam An-Nawawi dan yang lain tidak menikah karena perhatiannya yang sangat terhadap ilmu. Seperti yang dijelaskan dalam karyanya Syeikh Abdul Fattah "Al-Ulamau Al-Uzzab", kitab yang menjelaskan tentang para ulama jomblo. 

Jihad Ulama salaf mendedikasikan hidupnya untuk membaca dan berkarya ditulis indah menggunakan tinta emas. Pena merupakan senjata tajamnya menumpas kedzaliman, kebodohan dan penindasan terhadap kaum yang lemah. Kaum santri sebagai pemegang tongkat estafet perjuangan ulama salaf dituntut agar bisa berjihad meneruskan cita-cita pendahulunya dalam ruang yang berbeda. Yakni di Platform digitil masing-masing sebagai muaddib (pendidik), musaddid (pelurus informasi), mujaddid (pembaharu) muwahhid (pemersatu) dan yang terakhir sebagai mujahid (pejuang). 

Dengan kelima peran di atas, santri mesti berbuat semaksimal mungkin untuk memperjuangkan nilai-nilai islam dengan tulisan mencerahkan, kisah-kisah inspiratif dan tulisan lain yang mencerminkan Agama Islam sebagai Agama cinta penuh kasih sayang. Jihad dengan tulisan dalam bentuk karya berupa buku atau bentuk digital memberikan feedback yang luar biasa. Mengutip dauhnya Mas D. Dwy Sa'dulloh Katib 'Aam majelis keluarga Sidogiri dalam Silaturohhmi Nasional santri dan alumni Sidogiri, "Jihad kita kali ini bukan jihad menghunus pedang, tetap "jihad Kultural" menghunus pena memantapkan tinta." 

Saat mata menangkap kata, otak dapat bekerja dalam hitungan detik untuk mengaitkan kata dengan makna. Tingkat kecepatan transfer dari kata menjadi sebuah makna sangat tergantung pada memori. Sederhananya, jika seseorang sudah pernah melihat kata otak secara otomatis membuat sebuah database yang nantinya terkoneksi dengan makna. 

Secara konten, buku ini terbagi atas lima bagian. Pada bagian pertama, penulis membahas bagaimana menjadi muslimah dengan membahas kiat-kiat menjadi perempuan Muslimah yang sebenarnya di dunia nyata dan dunia maya disertai kisah-kisah perempuan yang menginspirasi. Agar dapat memberikan suntikan motivasi bagi pembaca dan mampu meneladani sosok mereka. 

Bagian kedua membahas tentang Tarbiah dengan meneladani kisah-kisah kegigihan Ulama salaf dalam menuntut ilmu hingga ada yang kencing darah. Bagian ketiga penulis membahas tentang dakwah, bagaimana santri di zaman yang semakin merangkak maju menembus ruang dan waktu juga harus ikut andil dengan tulisan yang menyejukkan serta melawan hoaks secara bersama-sama agar kemelut cepat bisa diselesaikan tidak bergulir menjadi bola liar. Bagian terakhir dari buku ini membahas tentang Muhasabah diri sebagai jalan keluar menjawab keluh kesahnya di media sosial. 

Atas lahirnya buku ini, kami ucapkan banyak terima kasih kepada para guru yang terus membimbing, para teman yang senantiasa memberikan support. Wabil Khusus kepada Alm. Abah dan Almh Ummi saya yang belum sempat membaca tulisan ini, tapi harapan saya, jika ada setetes embun keindahan yang bernilai pahala semoga mengalir deras dan menjadi ladang pahala jariyah untuk beliau berdua. Aamiin

Buku ini tentu masih banyak kekurangan. Maka dari itu, masukan dan kritikan sangat kami butuhkan sebagai penyempurnaan. Semoga karya ini dicatat sebagai amal Sholeh dan menjadi amal Jariyah bagi penulis, abah dan ummi. Akhiron, hanya kepada Alloh SWT kami mengharap pertolongan dan kepada Dzat-Nya yang maha sempurna kami berserah diri. 

Panyeppen, 19 Dzul Hijjah 1443 H.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...