Langsung ke konten utama

GEMBIRA DAN BAHAGIA BERSAMA MEREKA BERDUA

Orang tua bahagia jika melihat anaknya bahagia. Begitupun sebaliknya, orang tua akan terluka hatinya jika melihat putra kesayangannya bersedih. Seharusnya seorang anak juga demikian, merasakan apa yang dirasakan oleh orang tua. 

Setiap makhluk hidup pasti mempunyai memoriam. Jika dilihat dan diingat-ingat kembali bisa membuat seseorang senyum-senyum sendiri, mengeluarkan air mata, bahagia dan lain sebagainya. Intinya sedih dan bahagia bercampur lebur dalam kenangan indah dan sedih di masa lalu. 

Hidup sejatinya adalah perjalanan, setiap perjalanan akan meninggalkan bekas; baik bekas yang baik atau yang buruk. Oleh karena itu, perjalanan akan menyisakan masa lalu untuk selalu dirindu.

Kenangan paling diingat pasti di masa kecil dulu, ketika seorang ayah pulang kerja dibelikan mainan, sepeda onthel, boneka. Atau kenangan bersama teman di bangku sekolah SD, pasti sangat serru. Membahagiakan bukan ketika flash back ke masa-masa itu?

Kalau ditanya kenangan masa kecil lebih banyak bahagianya daripada sedihnya. Berbalik ketika sudah dewasa, rasa sedih lebih mendominasi daripada bahagia (menurut saya). Terlepas rasa bahagia di waktu kecil dulu karena apa, yang jelas semuanya indah ketika dikenang dan yang paling penting bahagia lahir dari hal-hal yang sederhana tidak harus mewah mengeluarkan biaya super duper mahal. 

Bahagia merupakan rasa gembira yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata. Terlalu indah ! Rasa bahagia muncul dari hati yang juga bahagia, karena tidak mungkin bahagia lahir dari perasaan hati yang gundah gulana. Oleh sebab itu, bahagia selalu hadir bagi mereka yang mempunyai pikiran positif. 

Kebahagiaan besar lahir juga dikarenakan kedua orang tua. Contoh, ketika libur pondok, para santri yang melaksanakan libur bertemu dengan orang tua dan sungkem kepada orang tua pasti merasakan bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lihat di sepanjang perjalanan menuju rumah dan keduanya sama-sama sudah saling melihat dari kejauhan, baik orang tua maupun anak selalu mengukir senyum dari raut wajahnya.

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bisa menjadi apa yang dia harapkan, dengan menyekolahkan anaknya di pesantren, menimba ilmu di rentang waktu yang cukup lama, atau sekolah di luar pesantren dengan harapan agar tidak sama dengan dirinya dan bisa mempunyai pendidikan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri. Tidak lain harapan orang tua agar anaknya menjadi sosok yang teguh tangguh serta bermenfaat kepada dirinya, orang tua dan makhluk di sekitarnya. Wah, ekspektasi orang tua kepada anaknya jangan ditanya? Pasti jawabannya sudah luar biasa.

Oleh sebab itu, jangan sampai harapan dan keinginan mereka luluh lantak karena sikap-sikap yang melanggar tatanan hidup beragama dan bersosial. Kita harus mempunyai prinsip untuk membuat mereka berdua tersenyum bahagia dengan prestasi yang gemilang, bukan malah membuat mereka sedih dan kecewa. 

Menghindari perkataan yang bisa membuat mereka berdua tersinggung, karena setiap hati orang tua sangat sensitif sekali. Mereka akan bersedih bahkan berujung menangis apabila seorang anak sudah menyinggung perasaannya; baik berupa sikap ucapan dan tindakan. 

Ada dua hal pokok yang perlu digarisbawahi bagi anak yang ingin berbakti kepada orang tua, yaitu berbuat baik kepada mereka dengan cara berbicara yang halus, baik, tidak menyentuh kemarahan mereka dan mendoakan mereka selalu.

Sering-seringlah minta maaf dan katakan kalau seorang anak benar-benar mencintai dan menyayanginya. Tentu bukan hanya dengan kata-kata belaka, melainkan dengan bukti nyata yang diekspresikan. Meskipun mereka sudah sangat tahu bahwa seorang anak menyayangi. Tapi ada sensasi berbeda apabila orang tua mendengar langsung dari anaknya, mereka akan lebih bahagia. Karena dengan mengatakannya, maka itu menjadi nyata.Mungkin tidak ditampakkan secara langsung, tapi di dalam hati ada kebahagiaan dan ketenangan yang orangtua Anda rasakan. 

Mungkin gengsi atau malu ! Leh, kalau sama pacar menyatakan cinta dan sayang berpuluh-puluh kali setiap nelepon atau video call. Tetapi kepada orang tua yang lebih berhak diutarakan gengsi dan malu. Orang tua merupakan cinta pertama dan paling tulus yang dalam setiap cintanya tidak pernah ada penghianatan. 

Catatan Mtz
Perpustakaan Umum Al-badar
02 Muharram 1444 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...