Langsung ke konten utama

DIBASUH DENGAN KASIH SAYANG

Dalam kesibukan sehari-hari, kadang seorang anak lupa bahwa di rumah ada orang tua yang sangat rindu untuk dijumpai, walau hanya sekedar mencicipi masakannya. Sempatkan untuk mengunjunginya atau paling tidak menelpon sekedar menanyakan "Sehat buk?, Sehat pak?. Mungkin ini hal remeh, tapi bagi mereka berdua ini sangat berharga. 

Kesuksesan hari ini bukan seratus persen atas kerja kerasmu sendiri, melainkan ada usaha dan doa dari orang tua yang tidak pernah usai. Mereka yang tidak bisa membaca dan meng-eja huruf sudah sukses mengantarkan anak-anaknya sekolah di perguruan tinggi. Mengutip dauhnya Rkh. Moh Khoriul Wafa Wafir saat ajian kitab Tanbihul Mughtarin, "Orang tua kita itu sangat hebat dan luar biasa, karena sudah memondokkan kita dan bisa menimba ilmu; baik Ammiyah ataupun Madrosiyah. Belum tentu kita bisa seperti mereka untuk memondokkan anak-anak kita nanti. Orang tua kita tidak bisa membaca, tapi mampu membuat kita bisa membaca, bahkan kitab kuning yang tidak ada harkatnya ."  

Sejenak merenung dan melihat bagaimana kehidupan di luaran sana, agar meningkatkan rasa syukur kepada Alloh SWT. Betapa banyak anak tidak bisa mondok atau sekolah formal di luar pesantren, lantaran ibu sudah tidak bisa bekerja dan ayah sudah lama kembali ke haribaan sang maha pencipta. Betapa banyak orang di luaran sana kehidupannya tidak seenak kita yang bisa mondok dan dikirim setiap bulan. 

Saat pagi di pertigaan jalan ada tukang becak yang mengharapkan penompang, sedangkan di zaman seperti sekarang para ibu-ibu sudah bisa ke pasar mengemudikan sepeda sendiri. Namun dia masih tetap bekerja keras mencari uang demi keluarga. Dia sering pulang larut malam ke gubuk tuanya, bahkan tidak jarang saya sering kali melihat bapak-bapak tertidur di atas bejaknya. Ya Alloh gusti, saat hamba melihat fenomena kejadian demikian, hati ini bagai diiris pisau sangat tajam; ngilu perih dan panas. 

Jika dilihat apa yang melatarbelakangi mereka hingga bekerja sedemikian? Yakni satu yang ada di hatinya, anak-anak bisa sekolah dengan nafkah yang halal. Biarlah mereka lelah, biarlah dia penat dan biarlah mereka kepanasan di bawah terik sinar matahari dan panasnya bumi di waktu siang hari dan merasakan dinginnya angin di waktu malam, asalkan anaknya bisa tetap Melanjutkan sekolah. 

Juga orang tua yang berprofesi sebagai tukang Genteng, setiap hari bergumul dengan tanah liat, dan berkawan dengan panas. Ketika genteng banyak di luar dan hujan tiba-tiba meskipun sedang makan enak-enaknya mereka tinggalkan. Bahkan di saat hujan turun dengan derasnya, keringat membasahi sekujur tubuhnya. 

Orang tua yang merantau ke negeri Jiran dan berprofesi sebagai buruh bangunan, dia tak kenal lelah dan panas di atas bangunan yang menjulang tinggi. Bahkan nyawa menjadi taruhannya saat menyelesaikan bangunan dengan tingkat tinggi. Semua mereka lakukan demi anak yang dicintai dan disayangi. 

Seperti apa pekerjaan orang tua, mbok ya dihargai dan disyukuri, karena segala pekerjaan yang dilakukannya demi kebahagiaan keluarga, demi kebutuhan anak yang masuk sekolah. Kerja keras yang tidak kenal lelah adalah bukti cinta dan sayangnya yang amat luar biasa. Maka dari itu, perlu sadar diri kalau ternyata seonggok daging ini dibasuh oleh kasih sayangnya, balaslah kasih sayang mereka dengan bakti secara totalitas, tidak melawan, tidak membangkang dan juga tidak banyak pinta di atas kemampuannya. 

Apabila orang tua tidak punya uang, diusahakan jangan meminta yang bukan-bukan, jangan meminta barang-barang mahal yang mereka sendiri tidak bisa untuk membelinya. Karena saat orang tua tidak mampu membelikan apa yang kau minta, maka dia pasti akan merasa sedih dan iba. 

Tidak terhitung jumlahnya bagaimana orang tua membasuh putra-putrinya dengan cinta dan kasih sayang, maka cintai dan sayangi dengan membahagiakan mereka. Apabila dirimu masih menimba ilmu di pesantren, bahagiakan mereka dengan prestasi, bukan malah nelepon "Saya mau berhenti mondok karena sudah tidak kerasan." Coba, orang tua mana yang tidak tergores hatinya di saat sang buah hati harapan masa depannya kelak bicara demikian. Usahakan kalimat di atas menjadi kalimat pantangan untuk disampaikan kepada orang tua dalam kondisi seperti apapun. Janji, ok ! 

Catatan Mtz
Perpustakaan Umum Al-badar
01 Muharrom 1444 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...