Langsung ke konten utama

TABAYYUN MEDSOS

Setiap hari manusia dicekoki khobar-khobar di dunia maya yang kemudian di angkat ke dunia nyata sebagai bahan Ghibah. Padahal tulisan dan video yang mereka saksikan belum tentu valid kebenarannya. Keberadaan media sosial memang banyak sekali memberikan manfaat dan kemudahan bagi para penggunanya. Tapi juga harus disadari oleh netizen, media sosial juga penuh dengan jerat-jerat yang sangat berbahaya. Mereka yang tidak awas, niscaya akan terperangkap tanpa mereka sadari sekalipun. 

Adapun orang yang cerdas, mereka yang selalu membentengi dirinya dengan Ilmu pengetahuan, akan mawas diri dan sedapat mungkin menjauhkan dari dari hal-hal negatif. Alhasil, sudah menjadi kewajiban bagi para pengguna medsos untuk selalu sadar akibat yang akan terjadi jika menyalahgunakan pada hal-hal yang bertentangan dengan kemaslahatan. 
Media social dengan segala kontroversi yang melingkupinya cenderung membuat hal-hal yang prinsip menjadi abu-abu. Mirisnya lagi, sekat antara hal-hal yang sudah menjadi maklum didunia nyata, kadang menjadi abstrak karena kealpaan netizen memahami esensi medsos sebagai “kehidupan baru” yang aturan dan normanya belum “disepakati” bersama. 
Terkadang yang dinilai baik dan menguntungkan belum tentu benar. Tapi, karena konsep manusia "Terimalah yang baik meskipun itu tidak benar" sering menjadikan manusia terlelap dengan kebohongan. 

Setiap netizen pasti mempunyai skill yang diselaraskan dengan kepentingan masing-masing. Misalnya, salah satu dari mereka ada yang mengolah kata supaya kelihatan jelek, sementara yang lain dikelola supaya kelihatan baik. Keduanya sama-sama tidak jelas. Tapi muara yang menjadi capaian adalah adanya saling klaim sebagai yang paling benar, sementara yang lain akan dinilai keliru. 
Sudah menjadi kodrat manusia untuk tidak pernah lepas dari kabar baik ataupun buruk, dalam lingkup dunia nyata atau dunia maya. Ibaratnya, berita itu seakan mangga yang harus dipetik tiap hari dan ditempatkan dalam keranjang yang sama. Tetapi, kadang dikhawatirkan ada mangga yang busuk dan menular pada mangga yang lain. Maka yang perlu dilakukan adalah mengamati dan men-sortir manga-mangga tersebut untuk kemudian dikembalikan pada tempat yang semestinya. Mangga yang baik kembali masuk keranjang dan mangga yang jelek ditempatkan ke “wadah” yang semestinya. 

Wadah yang berisi mangga, tak ubahnya pikiran manusia yang setiap hari menerima informasi. Membuang mangga yang sudah busuk agar tidak menular ke mangga yang masih bagus. Mirip sekali dengan pikiran; membuang informasi yang tidak penting agar tidak mengacaukan isi-isi yang penting. Cara terbaik adalah dengan meragukan semua apa yang hinggap dipikiran. Biarkan semuanya masuk kepikiran kita untuk selanjutnya kita ambil yang kredibel dan tidak diragukan lagi. Sebagaimana yang dijelaskan oleh seorang Filsuf Modern, Descartes. Yakni, "meragukan semuanya." 

Media social tak ubahnya “pasar bebas’ dengan bejubel berita yang tidak bisa dipastikan kebenarannya. Berita-berita tidak sesuai realita seakan menjadi trade merk kekhasan-nya. Seakan hoax menjelma sebagai bagian tak terpisahkan dan terus mendapat tempat di media social. 
Padahal, kode etik dalam memproduksi berita atau tulisan adalah, harus jujur, tidak boleh mengurangi atau menambah substansi dari tulisan yang dipublikasikan. Realistnya, sering ditemukan tulisan yang disampaikan berbeda dengan konteks yang sebenarnya, sehingga maknanya pun juga tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sayyidina Ali KW. pernah berkata, "Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti." 
Menulis sesuatu yang tidak sesuai realita merupakan suatu bentuk kemaksiatan. Seperti yang dikatakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Bidayah, "Pena adalah salah satu dari dua lisan. Maka dari itu jagalah dari sesuatu yang wajib dijaga oleh lisan, seperti halnya Namimah, ghibah, menyebarkan kabar-kabar Hoax”.

Aturannya, seorang dilarang untuk menulis apapun yang diharamkan untuk diucapkan. Semua tentang dosa-dosa pena itu seperti halnya lisan, tidak dipungkiri pena merupakan salah satu dari dua lisan. Bahkan, dampak tulisan di zaman seperti sekarang yang serba internet, jauh lebih besar dan lebih membekas. Atas dasar itulah, seorang netizen harus menahan tangannya dari menulis kobohongan, kemungkaran dan apapun yang unfaedah. 
Demikian ketika kita dihadapkan pada pilihan sebagai konsumen tulisan ataupu berita di media social. Sifat bijkasana harus mampu menempatkan diri secara proporsional, demi setidaknya tidak tercebur menjadi bagian afiliator hoax. Setiap yang kita produksi, sharing atau bahkan sekedar membaca haruslah sesuatu yang benar-benar bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. 

Disinilah klarifikasi atau tabayyun harus menjadi penyaring setiap informasi yang diproduksi atau disebar luaskan. Pasalnya, secara hakikat, tidak ada satupun kalimat yang disampaikan melainkan tertera dalam catatan “para pengawas” yang ditugaskan Sang Pencipta. 
Tabayyun harus menjadi kesadaran setiap pengguna media secial. Setiap informasi yang terlanjur disebarkan tidak akan pernah tergantikan dengan revisi. Roland Barthes, Seorang filsuf mendefinisikan “matinya seorang pengarang”. Maksudnya, tulisan yang terlanjur menjadi konsumsi publik tidak pernah tergantikan dengan alasan apapun. Mungkin saja untuk dikoreksi, akan tetapi secara hakikat tulisan itu sudah “menemui” objek yang dituju. Tentu, melupakan sesuatu yang pernah singgah tidak akan semudah menghapus jejak langkah pada sebidang tanah gersang. 

Allah SWT sendiri telah mengingatkan akan urgensi tabayun dalam menerima kabar yang datangnya dari orang-orang yang “tidak jelas”. Sebagaimana termaktub dalam Firman-Nya di Suroh Al Hujurat Ayat 6. Tabayun dimaksudkan untuk menghidarkan kita dari penyesalan dikemudian hari. Terkadang, suatu yang kita nilai baik secara sepintas, malah berbuah mudhorat manakala dibiarkan mengalir sendiri tanpa adanya koreksi. 
Seperti yang dianalogikan oleh Gus Nadirsyah Hosen, "Jika dikerumunan pasar tiba-tiba ada yang berteriak "Copeeet" sambil menunjuk ke arah anda, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Kerumunan langsung menghakimi anda, tanpa sempat lagi melakukan verifikasi: "Benarkah anda copetnya? atau yang lebih krusial lagi, "Benarkah dompet ibu di sebelah anda itu hilang karena dicopet atau memang ibu ini dompetnya ketinggalan di rumah?" 

Sayangnya, kadang skenario di atas juga terjadi di media sosial. Meski menggunakan Smartphone , tetapi pada hakikatnya tidak lebih dari kerumunan di media sosial yang bersikap hyper aktif tanpa sempat tabayyun terlebih dahulu sebelum bereaksi yang dampaknya sendiri, bahkan mereka tidak tahu kalau dapat merugikan orang lain. 

Setidaknya, terdapat 69,2 juta pengguna aktif Instagram, 52,4 juta Twitter serta 140 juta juta pengguna aktif Facebook. Hal itu berarti, ketika sekali pencet tombol share di layar smartphone tentang tulisan yang mengandung mudhorot, maka sejumlah ajaran Nabi dilanggar seketika: harus tabayun, jangan ghibah, jangan mencari-cari kesalahan saudaramu, membuka aib diri sendiri dan orang lain yang dapat merusak kehormatan. 

Entah apa sebabnya, terkadang seseorang lebih gampang mempercayai sesuatu yang belum pasti. Asalkan sesuai keinginan diri atau kelompoknya, , tanpa pikir dua kali langsung shere di akun pribadinya, sesuai kesenangan hati. Jadi yang penting, bukan tentang benar atau tidaknya suatu berita, melainkan apakah kita senang atau tidak dengan isi berita tersebut. 

Nampaknya, dunia ini sudah benar-benar berada di fase Post Truth, dimana manusia tidak lagi mementingkan isi, tapi lebih suka mengedepankan fanatisme golongan. Benar-salahnya suatu bukan lagi menjadi ukuran , yang penting sesuai “pesanan” golongan, mau ataupun tidak, harus menjadi konsumsi yang diminati. Akal sehat tidak lagi menjadi ujung tombak, tapi sekedar penguat argumentasi untuk membenarkan kepentingan kelompok tertentu. 

Walhasil, tabayyun harus menjadi pedoman paten bagi ummat muslim, khususnya di era sosmed seperti sekarang ini. Rekonstruksi terhadap model tabayun harus digalakkan sebagai upaya menjawab kebutuhan zaman. Alasannya, banyak sekali perselisihan terjadi disebabkan kesalahan memahami informasi dan kurangnya klarifikasi terhadap tulisan-tulisan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Jika seseorang tidak memverifikasi dan melakukan klarifikasi terhadap “apa” yang mereka konsumsi, khawatir kebiasaan tersebut akan menimpakan kecelakaan kepada orang lain tanpa kita sadari.

Catatan Mtz
19, Dzul Qo'dah 1443 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...