Langsung ke konten utama

MENULIS MEWARNAI DUNIA

Betapa pentingnya tulisan, sehingga Maha Santri tidak akan pernah memiliki title akademisi jika belum bisa menyuguhkan karya tulis yang disebut dengan istilah "Skripsi". Sekelas doktor dan profesor tidak akan pernah dikukuhkan sebagai cendekiawan sebelum memiliki penelitian dan kajian yang dibuktikan dengan tulisan. 

Maka dari itu, menulis bisa menjadikan pribadinya terhormat, mendongkrak perekonomian dan bisa mengajari tanpa harus menggurui. Seperti yang sudah dipraktekkan oleh kawages-kawages dan akademisi di akun-akun pribadinya. Mengutip pernyataan Imam Al-Ghazali: Kalau kamu bukan anak ulama besar, bukan pula anak seorang raja, maka menulislah. Begitulah kira-kira apa yang disampaikan Imam Al-Ghazali kepada kita tentang urgensi menulis ilmu. Semua pasti sepakat jika para ilmuan Barat dan Islam dikenal karena karyanya yang fenomenal. 

Menulis bukanlah hal yang mudah tapi bukan pula hal yang sulit. Mereka yang merasa sulit menulis karena tidak pernah memulainya. Bagi mereka yang mau belajar; menulis itu asik dan menulis itu keren. Karena bisa menyalurkan apa yang ada di pikiran tanpa harus mendatangi teman atau didatangi teman untuk sekedar curhat. 

Menulis tidak jauh dengan ucapan, karena pada hakikatnya tulisan merupakan bahasa lisan yang tersalurkan dengan bentuk huruf dari buah pikiran. Tulisan merupakan bahasa lisan yang disampaikan dengan oretan pena. Sesuai dengan adagium populer, "Berbicaralah dari hati, maka akan turun ke hati." Begitupun dengan tulisan, setiap rangkaian kata harus ikhlas dari hati maka akan bermuara ke hati pula. 

Para da'i yang dulu hanya berdakwah di atas podium atau dikenal dengan sebutan Dakwah Bi Al-Lisan sekarang sudah mulai mengkombinasikannya dengan Dakwah Bi Al-Qolam. Bukan hanya itu, para Dosen yang mengisi materi kajian kepada mahasiswa ditulis berbentuk buku. Seperti yang dilakukan oleh salah satu dosen Filsafat Dr. Fahruddin Faiz. Dalam bukunya yang berjudul "Menghilang, menemukan diri sejati" merupakan hasil materi kajian yang beliau laksanakan setiap Minggu. Inilah kemudian tantangan baru para da'i untuk bisa dua keahlian. Yakni Dakwah Bi Al-Lisan dan Dakwah Bi Al-Qolam. 

Menulis juga bisa diartikan dengan mewarnai dunia, seperti halnya, menulis juga ikut serta menyumbang gagasan dan menggerakkan peradaban. Tidak bisa dipungkiri, sejarah merekam bagaimana ummat islam berada di puncak kejayaan atau yang disebut dengan zaman keemasan salah satunya adalah karena tulisan. Setiap tetes tinta penulis adalah perubahan peradaban yang tidak akan pernah lekang oleh waktu dan tempat. 

Para Ulama'yang dikenal hingga sekarang karena mereka mempunyai karya tulis yang ditinggalkan. Seperti Imam Syafi'i terkenal dengan karyanya Al-Umm, Imam Malik dengan Muwattho'-nya, Imam Ghazali dengan karya fenomenalnya Ihya'Ulumuddin, Imam Ahmad dengan Musnadnya, Imam Abu Hanifah Kitaab-ul-Aathar dan Fiqh al-Akbar, Imam At-Thobari yang terkenal dengan Tafsirnya yang berjilid-jilid serta ulama-ulama lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu, namun karyanya kekal sampai sekarang dan dibaca oleh milyaran manusia di muka bumi ini. Sederet pesohor yang disebutkan abadi namanya selaras dengan karyanya. 

Abu Huroiroh RA, yang hafalannya paling kuat di antara sahabat Nabi Muhammad Saw dengan jujur mengaku, "Tidak ada sahabat Nabi yang hafalan Hadist-nya melebihiku kecuali Abdulloh bin Umar, karena dia bisa menulis sementara saya tidak." Sekaliber Abu Huroiroh mengakui kalah hafalannya karena beliau tidak bisa. menulis. Nah, betapa terhormatnya para penulis. 

Tanpa ditulis, akan sangat mungkin Al Qur'an akan sirna, sebab kalau hanya mengandalkan hafalan para Hafidz dan Hafidzoh maka Al-Qur'an bisa saja punah seiring wafatnya para penghafal Al-Qur'an. Seperti yang dijelaskan dalam Kitab Thibyan tentang kekhawatiran Sayyidina Umar bin Khottab karena banyak dari kalangan Hafidz gugur di Medan perang dan mendesak Sayyidina Abu Bakar kala itu untuk menulis Al-Qur'an. 

Sebuah peradaban tidak akan bisa lepas dari pengaruh tulisan. Banyak sekali karya-karya ulama' yang ditulis berabad-abad yang lalu hingga hari ini di zaman modern mampu menjadi penggerak. Bahkan terus dikaji hingga lintas generasi. Melalui tulisan yang baik dan bermenfaat ummat Islam hari ini juga bisa ikut berkontribusi menjadi penerus Baginda Nabi. Tulisan atau yang dikenal dengan Dakwah Bi Al-Qolam merupakan salah satu sarana dakwah dan arah kerjanya langsung mengarah pada otak. 

Akhiron, akan sulit ajaran islam yang indah dan penuh cinta ini tanpa kontribusi dari para ulama. Pemikiran yang dituangkan dalam tulisan yang akhirnya bisa membuat ajaran dan akhlak Baginda Rasululloh Saw tercatat dengan rapi dan sempurna. Maka tidak heran jika dengan menulis orang yang mati tetap dikatakan hidup. Menulis juga menginspirasi, menyumbang gagasan, mencerahkan dan menggerakkan peradaban. 

Loka coffe
Catatan Mtz
19 Dzul Qo'dah 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...