Langsung ke konten utama

DIAM, SIKAP INTELEKTUAL

Perdebatan terjadi setiap saat di dunia maya dan dunia nyata hanya mengoras tenaga dan menyia-nyiakan waktu. Terkadang mengalah dengan cara diam merupakan keniscayaan untuk meninggalkan perseteruan yang tiada kesudahan. Ditanggapi dengan berbagai macam alasan yang sudah logis tetap saja mempertahankan argumentasinya yang sudah jelas-jelas salah menurut pandangannya sendiri dan orang lain. Maka pada posisi yang seperti ini, diam pilihan terbaik ! 

Berdebat dengan orang bodoh hanya terperosok ke pola pikir mereka. Maka benar apa yang dikatakan oleh Nurhadi Aldo, "Berdebat dengan satu orang bodoh, hanya akan membuat orang bodohnya jadi dua." Ketika ada orang bodoh berbicara dengan gaya sok pintar mengajak berdebat. Bila harus ditanggapi, pilihannya cuma satu. Yakni diam. 

Dulu pernah hikayah tentang seekor keledai yang berdebat dengan seekor harimau. Keledai memulai percakapannya dengan harimau, "Rumput itu biru !". Harimau menjawab, "Bukan, rumput itu warnanya hijau." Di tengah perdebatan semakin sengit, akhirnya si keledai dan harimau meminta keputusan hakim dan meminta pendapat kepada singa. 

Saat menghadap singa yang duduk di singgasananya keledai itu berteriak, "Yang mulia betulkan rumput itu warnanya biru?" Singa menjawab, "Kalau kamu yakin demikian, maka benar rumput itu warnanya biru." Keledai merangsang kedepan dan menuntut "Harimau tidak setuju dengan saya, menentang saya, menjengkelkan saya. Hukumlah dia." Singa kemudian berkata, "Kalua begitu harimau patut dihukum harus puasa berbicara selama tiga hari." Demikian putusan sang singa. 

Keledai itu kemudian pergi dengan rasa riang gembira, dia berseru berulang-ulang, Rumput warnanya biru, rumput warnanya biru. Setelah keledai jauh pergi dan sudah tidak terlihat oleh pandangan mata. Secara pribadi harimau bertanya, "Yang mulia kenapa saya dihukum? Bukankah sebenarnya rumput warnanya hijau?" Singa kemudian menjawab, "Kamu kan tahu dan bisa berpikir sendiri bahwa rumput warnanya hijau." Harimau bingung. Lantas kenapa yang mulia memberikan hukuman pada saya? Singa kembali menjawab pertanyaan harimau "Hal itu tidak ada hubungannya dengan rumput yang warnanya hijau atau biru, hukuman itu karena sangat konyol bagi makhluk seperkasa dan sepandai kamu membuang-buang waktu untuk berdebat dengan orang bodoh. Tambah anehnya lagi engkau nekat menggaguku yang sudah kamu ketahui kebenarannya. 

Membuang-buang waktu tersia-sia terjadi di saat berdebat dengan orang bodoh dan fanatik, yang tidak perduli dengan kebenaran maupun kenyataan yang selalu menganggap hanya pendapatnya, keyakinannya, khayalannya saja yang paling benar. Tidak perlu membuang-buang waktu dengan yang tidak ada menfaatnya. Ada orang-orang yang sudah buktikan jelas tidak bisa menerima. Sebenarnya yang mereka inginkan hanyalah pengakuan bahwa mereka "Benar". Walaupun sebenarnya mereka itu keliru.  

Dikutip dari kitab "Mafahim Yajibu An-tusohahhah" karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki. Imam Syafi'i pernah berkata, 
قال الإمام الشافعي: مَا جَادَلْتُ عَالِمًا إِلَّا غَلَبْتُهُ وَلَا جَادَلْتُ جَاهِلًا إِلَّا غَلَبَنِي

“Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh, aku kalah tanpa daya." Dalam kesempatan lain, Imam Syafie juga berkata, "Aku mampu berhujjah dengan 10 orang berilmu, tetapi aku pasti kalah dengan orang yang jahil, karena orang yang jahil itu tidak pernah landasan ilmu." 

Sebagai kesimpulan, Meladeni mereka yang tidak mempunyai landasan ilmu yang kokoh hanya akan membuat diskusi sering kali tidak sambung. Satu bicara apa. Siapa bicara apa. Gagal paham ini tidak jarang membuat lelah. Oleh sebab itu, lebih baik mengalah saja dengan orang yang seperti ini. Jika tidak, maka dia sendiri yang ikut-ikutan pada pola pikirnya yang jumud. Maka diam itu penyelamat, daripada diteruskan bertahan tiada kesudahan. Jika ada orang bodoh mengajak berdebat dengan-mu, maka sikap terbaik adalah diam. Jangan menghabiskan tenaga dan pikiran berdebat dengan orang bodoh, sebab hasilnya akan gagal paham. Diamalah, karena itu merupakan sikap intelektual. 

Moh Toyyib Zaen
Karang Gayam
06, Dzul Qo'dah 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

USIA PRODUKTIF HANYA SEKEDAR NAMA

 Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...