Langsung ke konten utama

QISSOH MALAM PART 5

EH, KAMU SIAPA ?

Jika seseorang sudah tergila-gila pada sesuatu, maka yang ada dipikirannya hanya hal tersebut. Sebagaimana yang dikisahkan oleh Al-Qodhi Iyadh salah satu tokoh Sufi masyhur yang Insya Alloh nanti akan saya ceritakan di Qissoh malam part 6.

Dahulu kala ada seorang ulama' bernama Ibnu Al-Hajjam yang sangat mencintai ilmu. Pada suatu ketika keluarganya membelikan beliau seorang budak perempuan, keluarganya merias si budak dengan kecantikan, keanggunan dan semerbak wangi dari sekujur tubuhnya. Keluarga Ibnu Al-Hajjam menyuruh si budak masuk ke rumah Ibnu Al-Hajjam. 

Ketika malam tiba Ibnu Al-Hajjam mengambil buku dan menulis semalam suntuk. Beliau sama sekali tidak menggubris dan memperhatikan budak perempuan yang ada di dekatnya. Ibnu Al-Hajjam terus menerus seperti itu selama kira-kira satu bulan. Karena merasakan lamanya penantian si budak perempuan itu mengatakan kepada Ibnu Al-Hajjam, "Jika anda tidak tidak minat kepada saya, anda bisa bisa menjual saya kepada orang lain." Ibnu Al-Hajjam menjawab, "Eh, kamu ini siapa?" "Saya budak perempuan anda !" Kata si budak. Ibnu Al-Hajjam lantas menjawab kembali pernyataan si budak, "Saya tidak pernah membeli budak perempuan. Pergilah kepada orang yang membelimu, agar dia menjualmu lagi." 
Bahasa trend-nya "Si Budak kenak Senggol" 😁

Itulah kehebatan dan kegilaan ulama' kita dalam perihal membaca dan menulis. Kita?

Moh Toyyib Zaen
Kantor pendidikan Agama PPMU Panyeppen
27, Romadhon 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...