Langsung ke konten utama

BAHAGIA DENGAN JAUHI PRASANGKA

Setiap hamba pasti mempunyai prasangka kepada orang lain yang ada di sekitarnya atau jauh sekalipun. Lebih-lebih kepada orang yang sudah mempunyai stigma melekat pada orang tersebut. Maka sudah dipastikan prasangka itu lebih besar. Begitulah fitrah manusia dalam hidupnya diliputi prasangka dan rasa curiga. Lantas bagaimana jika berprasangka buruk itu menjadi kebiasaan dan mendarah daging dalam diri manusia? Tentu sangat tidak baik dan merupakan sifat tercela yang wajib dijauhi. 

Momentum bulan Romadhon sebenarnya waktu yang tepat untuk melatih hati tidak berprasangka buruk pada orang lain. Melatih diri dengan selalu berfikiran positif, tidak sensian dan curigaan. Rasa curiga dan buruk sangka menandakan ada yang bermasalah dengan pikirannya. Apalagi sampai pikiran itu mengarah pada dugaan dan curigaan yang bermuara pada tudingan. Maka siapa saja tidak akan mau berteman, karena dikit-dikit curiga sehingga orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan tersiksa, karena dibelenggu oleh sifatnya yang selalu Suudzonan.

Ada hikayah yang bisa mengetuk pintu hati mereka yang selalu curiga dan memandang rendah orang lain. Di suatu daerah ada pemuda tampan rupawan dengan ekonomi mapan. Suatu ketika pemuda tersebut membeli rumah karena ingin berdekatan dengan tempat kerjanya, kebetulan juga bertetanggaan dengan orang miskin yang sudah mempunyai tiga anak. Pemuda ini setiap hendak mau berangkat dan selepas kerja mengamati si miskin. 

Di suatu malam hujan deras dan lampu di sekitar kontarakan itu padam gelap gulita. Dengan bantuan Flas (Lampu Handphone) pemuda tadi pergi ke dapur mencari apa yang bisa dibuat menerangi, lilin dan sejenisnya. Ternyata di dapur kosong dan tidak tidak apa-apa sama sekali. Tiba-tiba dari luar rumah ada yang mengetuk pintu rumah. Tenyata anak si miskin. Dengan wajah risau dan payung di tangannya. Bertanya, "Kakak ada lilin?" Mendapat pertanyaan si miskin spontan menjawab, "Tidak ada !" 

Mendengar jawaban itu anak si miskin tersenyum khas seraya berkata, "Aku sudah menduganya kakak tidak ada lilin. Ini ada dua lilin saya bawakan untuk kakak. Ayah bilang kasian dan khawatir kakak karena tinggal sendirian, makanya ayah menyuruh saya mengantarkan dua lilin ini. Ungkapan anak si miskin menusuk pemuda kaya tersebut dan gemetar hatinya. Dia merasa sangat merasa bersalah dan berdosa, karena sudah curiga dan buruk sangka. Kemudian dia peluk erat dengan penuh haru dan tangis. 

Dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga, bahwa sangkaan kita terhadap orang lain tidak seratus persen benar. Itulah sebabnya, buruk sangka meskipun benar harus dijauhi dan lebih berpikiran positif dalam memandang orang lain. Alloh memerintahkan untuk menjauhi prasangka-prasangka yang jelek, karena selain tidak baik secara kehidupan bertetangga tindakan tersebut merupakan dosa.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا
"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. " 

Pemuda yang selalu curiga pada si miskin melalui pikiran negatifnya berasumsi dan dugaannya panjang tidak mendasar, karena kebiasaan orang miskin minta-minta. Ternyata persepsinya Berbeda dengan fakta. Jika prasangka-prasangka buruk pemuda tersebut terus dipelihara akan membuat dirinya kesepian dan gelap gulita di sepanjang malam. Jiwanya hampa dan kosong, merasa semua orang rendah dan minta-minta. Merasa bahwa semua orang tidak ada yang mengerti dan peduli. Padahal karena semua kebaikan orang dibaca buruk. Riya' lah, sombonglah, pansos lah dan lain sebagainya.

Sebagai kesimpulan, sikap buruk sangka pada sesama dengan mencari kesalahan. Akhirnya orang di sekitarnya merasa tidak nyaman. Selama pikiran negatif memandang orang lain, maka sulit menemukan kebahagiaan. Oleh karena itu wajib membuang sifat yang membuat dirinya tidak tenang, tidak bahagia lantaran terus mengawasi orang lain dengan penuh kecurigaan. Mari selalu berpikiran positif dan selalu berprasangka baik pada siapapun terutama pada orang yang bersama kita dalam sehari-hari, agar waktumu tidak hanya diisi oleh kecurigaan, tapi diisi kebahagiaan dengan selalu berpikiran positif. Terlebih pada teman, sebab temanlah penolong pertama saat kita terdesak kesulitan yang tak terduga. 

Catatan Mtz
01, Romadhon 1443 H.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...