Langsung ke konten utama

UMMI'

Perbincangan tentang kehangatan kasih dan cinta Seorang ibu tidak pernah habis untuk diperbincangkan dan dituliskan dengan kata-kata sebagus apapun, karenaya dari rahim seorang ibu para generasi intelektual tumbuh berkembang. Jadi bagaimana jadinya jika peran seorang ibu tidak berjalan normal? Tentu peran manusia akan hilang dan sejarah peradaban manusia tidak akan terasa hingga saat ini. 

Dalam Al Qur'an peran seorang ibu dan perjuangannya sangat besar, butuh kesabaran dan kekuatan mental. Lebih-lebih saat detik-detik melahirkan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al Qur'an suroh Luqman, 
Q.S Luqman ayat 14,
وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَٰلُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ
Artinya: "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."

Pada saat masih kecil banyak dari kita temukan di sekitar kita anak kecil bersaudara rebutan ibunya, seolah hanya miliknya tidak boleh dimiliki oleh orang lain. Termasuk saudaranya ! Kata, "Ini ibuku, ini Ibuku" sering didengar bahkan berujung tarik menarik dan nangis ketika salah satunya yang memenangkan. Meski terkadang ini sifat ke kanak-kanakan. Intinya rebutan ibu menjadi topik terhangat di masa-masa kecil. 

Selagi Ibundamu masih hidup, bahagiakan dia, cintai dia, kasihi, berusaha berbakti. Kalau bisa berebut dengan saudara-saudaramu membahagiakannya, karena orang tua adalah kunci menuju kita Rohmat Alloh dan Rosul-Nya, sumber kehidupan akan berkah jika memuliakannya dan berharga melebihi harta warisan. Apakah kamu masih ingat cerita Uwais al-Qarni pemuda yang namanya tidak dikenal di dunia, tapi namanya di langit melambung dan terkenal menjadi perbincangan para malaikat dan bidadari-bidadari karena bakti pada seorang ibu. 

Uwais al-Qarni sempat dicap gila oleh orang-orang disekitarnya, karena setiap hari dia menggendong lembu di atas punggungnya, manaiki dan menuruni setiap bukit, tapi hujatan dan cibiran itu berbalik setelah orang-orang tahu alasan di balik Uwais al-Qarni melakukan demikian. Ternyata uwais sedang melatih dirinya, agar kuat menggendong ibunya yang sakit-sakitan menuju perjalanan jauh dari yaman ke Mekah, demi melaksanakan ibadah haji di baitulloh. Ketika uwais dan ibunya sampai di Mekah dan berada di hadapan ka'bah, ibu uwais meneteskan air mata harus penuh suka cita. Lantas Uwais berdoa, "ya Alloh Ampunilah segala dosa ibuku." Ibunya pun bertanya, "Bagaimana drngan dosamu?" Uwais pun menjawab, "Dengan terampuninya dosa ibu, ibu akan masuk surga. Dan cukuplah Ridho dari ibu yang membawaku menuju surga-Nya." Masya Alloh. 

Peran ibu sangat mulia. Rosululloh memberikan Mau'idzoh pada ummatnya dan dikenal dengan hadits populer tentang mendahulukan baktinya pada sang ibu,
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ 
“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi). Atau dalam hadits lain disebutkan, 
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari).

Sebagai kesimpulan, Ibu adalah tangan Alloh yang diutus memberikan kasih dan cinta dalam setiap waktu. Ibu juga kunci surga, karenya banyak dari kalangan manusia bisa sukses baik di dunia dan di akhirat lantaran ketulusan baktinya pada orang tua. Lebih-lebih ibu. 

Catatan Mtz
12 Sya'ban 1443 H.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...