Langsung ke konten utama

KEMANA NILAI ISLAM DI NEGARA MAYORITAS MUSLIM

"Islam KTP" mungkin di telinga kita sudah tidak asing lagi, slogan "Islam KTP" sudah lama booming di Negera kita tercinta. Dalam industri per-Fliman istilah "Islam KTP" sempat dijadikan judul film, tayang sejak 12 juli 2010 dibintangi para pemain profesional. Salah satunya; Idrus Madani, reza aditia dan masih banyak lagi. 

Sebenarnya apa maksud dari Film tersebut. Kenapa judulnya "Islam KTP"? Menurut Mir'atul Hikmah, umat Islam yang dikatakan hanya ber-KTP Islam, hanyalah mereka yang tidak menjalankan ajaran agama Islam dengan sebaik-baiknya. Namun ketika ditanya apa agamanya, jawabannya langsung Islam. Pupusnya nilai-nilai keislaman seperti saling menghormati sesama dengan akhlak mulia kian hari kian merosot. 

Ketika waktu santai di kamar saya sering secrol-secrol tiktok, di sana saya melihat wawancara Habib Husein Al-Haddar penulis Buku, "Tuhan Ada Di Hatimu" beliau menjelaskan keindahan wajah Islam dengan mengutip kalamnya Muhammad Abduh modernis islam. Tatkala Mantan Rektor universitas Al-Azhar Muhammad Abduh kunjungan ke paris beliau melihat paris pada tahun 1884 termasuk kota yang bersih, teratur, rapi dan indah. Nilai-nilai islam yang terkenal dengan kebersihan benar-benar hidup di kota yang terkenal dengan julukan "The City of Love" itu.

Bukan hanya kebersihan, etos kerja yang tinggi, penduduknya ramah dan bersahabat juga mewarnai kehidupan sehari-hari di paris. Bukan hanya paris, Perancis yang terkenal dengan kota maju, karena di kota yang terkenal dengan julukan "Les Bleus" itu sangat menjunjung nilai-nilai kejuruan, dan sangat jarang pemberitaan tentang tindak kriminal, seperti korupsi, bisnis trading dan lain-lain yang semakin hari semakin banyak di negara kita tercinta. 

Setelah Muahammad Abduh melihat negara sekuler seperti Paris dan Perancis dengan performa yang mengagumkan, akhirnya beliau melakukan evaluasi dengan masyarakat dan negara arab. Kemudian dari Halaqah ini munculah maqolah beliau yang sangat populer, 
رأيت الإسلام ولم أرى مسلما، رأيت المسلمين فى العرب ولم أرى إسلاما. 
رحم الله الامام محمد عبدە!
"Di Paris aku melihat islam, tetapi aku tidak mendapati oreng islam. Sedang aku banyak melihat orang islam di arab, tetapi aku tidak menemukan islam." 

Salah satu kemajuan islam adalah dengan banyak membaca. Selaras dengan ayat pertama kali yang turun pada kanjeng Nabi Muhammad Saw di gua Hiro'. Namun yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat kita sering menjadi sasaran empuk orang-orang tidak bertanggung jawab di sosial media dengan tulisan-tulisan provokasi, baik dalam perihal politik, sosial dan agama. Hal demikian karena masyarakat kita kurang membaca sehingga wawasannya tidak begitu luas dan lebih mengedepankan ego, tanpa melihat kebenaran fakta di lapangan. Beda halnya pada masa-masa keemasan, islam mengakar, khazanah keilmuan dikaji di setiap kota-kota kecil, perbedaan melahirkan karya-karya spektakuler seperti yang kita rasakan saat ini. Benar apa yang dikatakan oleh salah satu orang Yahudi, "kita tidak takut pada orang Islam, karena mereka bukan ahli baca." 

Mengutip keterangan bukunya Haidar Musyafa yang berjudul, "Muslim Visioner" di jepang tepatnya di Dhensa atau di kereta listrik, sebagian besar penumpangnya baik anak-anak atau orang dewasa sedang membaca buku atau majalah dan surat kabar. Mereka tidak perduli mau duduk ataupun berdiri. Banyak yang memenfaatkan waktunya untuk membaca dan belajar banyak ilmu dari buku-buku yang mereka bawa. Budaya baca di Jepang juga didukung oleh kecepatan negera tersebut untuk menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa jepang. Konon, penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan yang terus berkembang hingga abad Modern ini. 

Ungkapan Muhammad abduh di atas dan fenomena di dhensa dimaksudkan bahwa ajaran, etos, etika dan estetika lahir di negara minoritas muslim. Wajah islam yang terkenal ramah, asah, asih dan asuh diamalkan di negara-negara sekuler. Semacam perancis, paris dan jepang tepatnya di kota dhensa sulit ditemukan di negara-negara mayoritas muslim. 

Apalagi soal kebersihan, kedisiplinan, kepatuhan dan masih banyak lagi akhlak islam yang sebenarnya terasa asing di negara muslim sendiri. Karena itulah pemeran utama yang harus hadir dan bertanggung jawab dalam mempromosikan nilai-nilai keislaman yang Rohmatan Lil Alamin. Kalau bukan kita siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Mari bersama-sama bergandengan tangan mewujudkan mimpi-mimpi besar ini. Yakin oasti bisa ! 

Loka coffe, 07 Sya'ban 1443 H
Catatan Mtz. 






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...