Langsung ke konten utama

AKU MADURA

Pulau madura terkenal dengan gotong royong antar masyarakat, mempunyai nilai religius sangat kental, seraya menjunjung nilai-nilai budaya yang sudah diwariskan oleh para pendahulunya. 

Madura mempunyai prinsip dan harga diri yang tidak bisa ditawar lagi, potret mempertahankan harga diri meskipun harus rela mati. Salah satu pribahasa madura yang sangat terkenal adalah, “Atembang pote’ mata, ango’an pote tolang” (daripada putih mata lebih baik putih tulang), mengandung makna dari pada merasa malu lebih baik mati. Pepatah lain menyatakan “oreng lake mate’ acarok, oreng bine mate’ arembi” (orang laki-laki mati karena carok, orang perempuan mati karena melahirkan). Kalimat ini menunjukkan secara tegas sebuah sifat patrakhi pada masyarakat Madura.

Salah satu yang sering kali mewarnai kehidupan orang madura adalah etos kerja yang melekat bahkan bisa dikatakan mendarah daging. Hampir di setiap kota-kota besar pasti ada orang madura. Bahkan di Jakarta ada Salah satu kampung yang diberi nama "Kampung Madura" karena di wilayah tersebut didominasi oleh orang-orang madura yang merantau. Tidak hanya dalam ruang lingkup negara, di manca negara, seperti Malaysia, arab saudi, Hongkong dan negara-negara maju lainnya orang-orang madura sukses menjadi perantau. Di mana lautan, di mana pegunungan, di negeri yang paling jauh sekalipun menjadi saksi ketekunan orang madura dalam bekerja. Itulah mengapa banyak orang madura sukses di perantauan, karena mereka mempunyai etos kerja yang membaja. 

Banyak stigma yang sering disematkan pada orang madura, seperti suka berkelahi, grasa grusu tidak punya akhlak dan hal-hal negarif lainnya. Padahal tidak demikian ! Mereka kurang piknik saja. Madura potret akhlak, menjunjung nilai-nilai tinggi kesopanan, tutur kata dan sopan santun pada orang tua, guru, tamu dan tetangga tidak usah ditanya. 

Selain tentang akhlak, orang madura termasuk pengagum ilmu dan ahli ilmu. Siapapun datang bertamu lebih-lebih orang sudah terkenal dengan kealimannya dan sandangan ilmu yang melekat mereka akan memperlakukannya dengan mulia. Di sambut seperti raja, dilayani dengan khidmat dan penuh hormat. Hal itu dibuktikan dengna pernyataan KHR. Kholil As'ad pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo. Beliau dauh, "Ketika ada orang Alim dari Mekah, yaman dan dari mana saja yang terpenting alim, dan orang baik pasti orang madura kalau punya uang pasti Sowan. Itulah sebabnya orang madura rata-rata bahkan dikatakan 99% lebih tidak ada agamanya orang Madura kecuali islam. Meskipun bajingan tetap masih bersyahadat." Hal itu karena nenek moyangnya dulu kalau ada orang alim sowan. Barokah dari pada pendahulunya yang sering menghormati orang alim anak cucunya rata-rata menimba ilmu agama di pesantren. 

Bukan hanya itu, madura juga dikenal pecinta fanatik Baginda Rasululloh Saw. Terbukti ketika malam Jum'at seluruh masjid, musholla dan surau melantunkan Diba'iah. Bahkan ketika bulan Robiul Awwal tanah madura bergetar dengan lantunan pujian pada sang kekasih Rosululloh Saw. Siang, sore dan malam. Bahkan satu hari kadang ada sampai tiga dan empat mengadakan maulidun Nabi meskipun secara sederhana, karena mereka tidak ingin menyambut kelahiran orang yang dicintai dengan tanpa mensyukuri. Mengutip dauhnya Lora Jazilun Nizal, "Kalau Aceh dikenal dengan Serambi Mekkah, maka Madinah mempunyai madura sebagai Serambiny." 

Sebagai kesimpulan, Madura harus dijaga agar kearifan lokal itu tetap ada dan mengakar hingga anak cucu kita. Bukankah untuk membalas jasa para pendahulu dengan mempertahankan nilai-nilai luhurnya. Bahkan kalau bisa ditambah dengan tetap memperhankan kearifan lokal sesuaikan dengan kondisi saat ini. Mendorong semuanya menuju perbaikan yang lebih baik lagi. 

Catatan Mtz, 05 Sya'ban 1443 H.
Loka coffe.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...