Langsung ke konten utama

MEMBANGUN NEGERI DENGA LITERASI

Bukan tidak ingin bersyukur berada di bumi yang gemah Ripah loh jinawi ini, sekolah dengan nyaman dan ibadah dengan aman. Kita flashback sedikit pada sejarah, di mana Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, disitu juga negara jepang mengalami serangan sekutu, bom di mana-mana, mayat berjatuhan, pendidikan runtuh, ekonomi hancur. Tapi sekarang, jepang secara kualitas pendidikan, ekonomi, tekhnologi jauh sangat dibandingkan negara kita. 
Kelirunya dimana? Pasti jawabnya kelalaian pemerintah. Bukan guys, kesalahan fatalnya ada di kita. 

Ilmu pengetahuan mustahil akan tampil ke permukaan tanpa adanya budaya literasi. Dengan membaca, anak bangsa akan menelaah dan menganalisa sehingga akan memunculkan ragam inovasi dan kreativitasnya. Tapi jika dunia leterasi lemah dalam satu negara, maka kemajuan dalam segala sektor tidak akan pernah terwujudkan. Dalam Bukunya Haidar Musyafa yang berjudul Muslim Visioner dijelaskan bahwa di muka bumi ini terbit antara empat ribu hingga lima ribu judul buku. Dan minat baca anak bangsa hanya 0,0009 sangat jauh dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 17,999. Ini menandakan minat baca sangat lemah dan melemahkan negeri yang sudah 76 usianya.

Untuk bisa mewujudkan kecerdasan anak bangsa maka yang harus berperan penting adalah sosok seorang Ustad/Guru. Peran penting seorang guru inilah yang nantinya akan membangun dunia peradaban kemajuan suatu bangsa. Sebagaimana ketika Bom atom miliki sekutu memporak porandakan kota Hiroshima dan Nagasaki berkeping-keping. Ada pertanyaan penting dari sang kaisar yang menjabat waktu itu. Sang kaisar tidak menanyakan berapa jenderal dan prajurit yang masih hidup, yang menurut logika akan menyerang kembali. Akan tetapi sang kaisar menanyakan berapa guru yang masih hidup di jepang. Sang kaisar beralasan seorang guru harus lebih diperhatikan dari pada jenderal, karena seorang guru merupakan tiang-tiang penyangga suatu bangsa. Gurulah yang akan melahirkan bibit unggul harapan bangsa di masa-masa mendatang. Hal ini selaras dengan yang menimpa Kota Baghdad pada tahun 1258 dikepung pasukan tartar. Di mana pada masa ini hidup seoarang ulama' besar yang bernama lengkap Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Ia lahir di desa Nawa, dekat kota Damaskus, pada tahun 631 H dan wafat pada tahun 24 Rajab 676 H. Waktu beliau diajak untuk berperang melawan pasukan tartar, tapi lebih memilih mengasingkan diri dan mengajarkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat kala itu. Karena Iman An-Nawawi tahu, jika kota² dihancurkan maka hanya butuh beberapa waktu untuk membangunnya kembali. Tapi jika ilmu ummat yang hancur, maka membutuhkan sekian generasi untuk membangunnya kembali. Hal ini bukti nyata kalau peranan ilmu pengetahuan sangat menentukan kuatnya dan majunya suatu bangsa. 

Majunya suatu negeri lahir dari pendidikan yang berkualitas, yakni minat baca dan menulis hingga mampu memberikan kontribusi yang nyata dengan ide-ide cemerlang. Jika budaya literasi sangat rendah, maka juga bisa dipastikan bangsa ini akan lemah. Tapi jika minat baca, menelaah dan menganalisa terus mengakar pada anak bangsa hingga generasi-generasi selanjutnya, maka pengamat yang menyatakan Indonesia di tahun 2030 akan menjadi raksasa dalam bidang ekonomi dan sektor-sektor yang lain akan mudah terwujudkan. Aamiin

Catatan Mtz. 02 Robius Tsani 1443 H
Warkopiah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...