Langsung ke konten utama

WAJAH SANTRI WAJAH INDONESIA

Sejarah perjalanan kemerdekaan indonesia tidak lepas dari perjuangan Santri yang mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia dengan segenap jiwa dan raganya. Pernyataan ini bukan omong kosong dan isapan jempol belaka, melainkan dituliskan dengan tinta emas oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam bukunya 'Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia' (Al Ma'arif, Bandung 1981), Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari memanggil KH. Wahab Hasbulloh, KH. Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatoel Oelama). Jihad fisabilillah yang terjadi pada tanggal 22 oktober 1945 atau yang dikenal dengan resolusi jihad dipelopori oleh Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy'ari melalui fatwanya yang menyerukan perlawanan fisik dalam mempertahankan negara kesatuan republik Indonesia. Perlawanan fisik kepada tentara sekutu yang ingin kembali menjajah tanah Indonesia merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim. Resolusi jihad NU bermakna penolakan terhadap kekuatan kolonial Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia. 


Lantunan kalimat Allohu Akbar pejuang di markas kyai blauran. Para kyai dan santri terus membanjari tanah Surabaya dengan mendirikan markas di rumah kyai yasin di blauran Gang IV/24 Surabaya sehingga dikenal dengan sebutan markas kyai. Fatwa Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy'ari mengubarkan semangat juang para santri yang berbunyi: "Bagi sekalian orang islam, yang dewasa untuk berjuang melawan musuh yang yang akan menjajah Indonesia kembali, hukumnya adalah fardhu 'Ain. Fatwa selanjutnya adalah mati di Medan perang dalam rangka memerangi musuh ummat Islam adalah mati syahid dan orang yang mati seperti itu akan masuk surga."Setelah dua minggu tentara Inggris mendarat di surabaya pertempuran Surabaya pecah. Para santri berjuang sampai titik darah penghabisan, hadir di medan perang bung Tomo sebagai penggerak massa yang tidak pernah menjadi santri tapi beliau taat terhadap nasehat Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy'ari. 


Setelah kemerdekaan Sudah ada di tangan rakyat Indonesia, para kyai dan santri pulang ke tempat masing-masing untuk bisa melaksanakan taklim dengan aman tanpa ada lagi penjajahan di tanah air tercinta. Maka sungguh heran, jika ada yang mengatakan santri itu konservatif dalam pemikiran peradaban kemajuan negaranya. Perjuangan yang mengurbankan jiwa dan raga dikerahkan untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Para santri bukan tidak bisa untuk menduduki jabatan di lingkungan kepemerintahan, tapi mereka lebih memilih untuk pulang ke pesantren menimba ilmu kepada kyai. Hal ini dijelaskan dalam buku yang berjudul "Resolusi Jihad" yang ditulis oleh Abdul Latif Bustami dan tim sejarawan tebuireng. "Keinginan Jepang Untuk memberikan jabatan presiden kepada tokoh Islam jika nanti Indonesia diberikan kemerdekaan oleh Jepang, dan yang diminta adalah Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy'ari. Namun Beliau menolak tawaran itu dengan alasan bahwa dia harus mendidik Santri di Tebuireng.


Semangat juang santri dalam mempertahankan kemerdekaan sangat besar pengurbannya, dari awal peran pesantren dan santri dalam perspektif sejarah menunjukkan sejak berdirinya memberikan kontribusi perjuangan dalam menegakkan keadilan, kebenaran dan amar makruf nahi mungkar. Sudah sepantasnya para Santri menentang keras kehadiran pasukan sekutu yang ingin menguasai kembali tanah air Indonesia dan mengusir ke tempat asalnya. kaum santri dengan jasa-jasanya sudah ikut berkontribusi dalam kemerdekaan bangsa, memelihara dan merawat bangsa Indonesia tercinta. dimana pun santri–santri itu berada pastilah ia adalah orang yang cintanya kepada tanah air, luar biasa. Tidak ada santri yang tidak cinta kepada tanah airnya, karena wajah Santri adalah wajah Indonesia. Sumbangsih pemikiran santri untuk kemajuan Negeri. Selamat Hari Santri Nasional 2021 M

Disarikan dari berbagai macam sumber


Catatan Mtz, 15 Robiul Awwal 1443 H

                         21 Oktober 2021 M



Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...