Langsung ke konten utama

SOSOK TELADAN SAYYIDAH KHADIJAH

 Beliau adalah istri pertama manusia paling agung di dunia ini. Kepribadiannya yang lembut selalu mendukung perjuangan sang suami tercinta, menghibur dikala lelah dan letih atas gangguan orang yang membenci suaminya. Sayyidah Khodijah merupakan wanita terkhormat dengan kekayaan yang melimpah ruah, pengusaha sukses menginvestasikan hartanya dalam perdagangan hingga akhirnya dipertemukna dengan lelaki tampan, jujur dan penuh kewibawaan baginda Nabi Muhammad Saw, beliau terkagum-kagum melihat keagungan akhlak Rosululloh yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Sa'ad, "Sebagai seorang remaja yang menginjak dewasa, keperibadian, sikap, perilaku dan tutur katanya sungguh sangat berbeda dengan pemuda pada umumnya. Dia baik hati, lembut tutur katanya, menyenangkan siapapun yang berhadap-hadapan dengan beliau, penuh perhatian terhadap tetangganya. Sikap kemuliaan baginda memberikan nuansa berbeda kepada Sayyidah Khodijah dan menawarkna kerjasama dan menjualkan dagangan Sayyidah Khodijah, lalu Baginda menerima ajakan tersebut. Konon sayyidah Khadijah menjanjikan upah 2 kali lipat kepada baginda, hingga pada akhirnya dagangan tersebut hasil empat kali lipat. 


Tiga bulan setelah kedatangan Rosululloh dari syam, Sayyidah Khodijah mengutus sahabat karibnya Nafisah binti Umayyah datang kerumah baginda menyampaikan maksud untuk melamar baginda, padahal pada masa itu tidak lazim perempuan melamar lebih dahulu seoarang laki², apalagi sekelas wanita terkhormat dari keluraga kaya raya dan nasab yang tinggi Sayyidatul Quroisy.


Catatan Mtz. Vol 52

Panyeppen, 05 Muharrom 1443 H. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

Jalan Terjal Menaikkan Literasi Anak Negeri

Tidak ada bangsa yang mencapai kemajuan tanpa kebiasaan membaca buku. Sayangnya, gerakan literasi di Indonesia menempuh jalan terjal. Akses terhadap buku bermutu terbatas. Budaya membaca masih rendah. Tata kelola perbukuan nasional kurang terpadu. Tidak ada jalan pintas mendongkrak literasi. Tak cukup membagikan buku seperti dilakukan setiap tahun oleh berbagai lembaga pemerintah. Tingkat literasi Indonesia rendah karena berbagai hal. Salah satunya, kebiasaan membaca buku belum membudaya. Alhasil, fondasi gerakan literasi menjadi rapuh. Selain itu, minim sokongan ketersediaan buku-buku bermutu.   Pemerataan akses ke buku diperlukan untuk membudayakan kebiasaan membaca. Akses ini mewujud dalam kehadiran toko buku, perpustakaan, pojok baca, pameran buku, dan komunitas-komunitas literasi. Sayangnya, banyak kendala meningkatkan akses itu. Sejumlah toko buku tutup karena merugi. Buku-buku di pojok baca kurang diminati. Harga buku di pameran-pameran buku juga tidak ramah di kantong. Ba...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...