Setidaknya kita sudah bersama² mendermakan segala-galanya sepenuh hati. Hasil yang diraup mungkin tidak saat ini, insya ALLOH di kemudian hari, bukankah para petangguh sangat segan dihormati lantaran tidak pernah ingin dipuji, bukankah para pejuang mengisap kehidupan ini dengan cara dinikmati dan disyukuri, bukan sedikit² merintih untuk dikasihani. Pecundang ulung berkata dengan ciri khasnya yang mau menang sendiri, "Hidup ini penuh simpati, sehingga siapa saja yang bekerja secara sosial pasti hanya ingin dipuji." Sungguh, pernyataan tersebut sangat jauh dari kodratnya sebagai insani. Kalau pernyataannya ditangkap sebagai kebenaran hakiki, terus bagaimana dengan para pejuang yang gagah berani rela mati? Mungkin dalam hal ini kita sangat perlu menanamkan Kalam Hikmah Kyai Nawawi Sidogiri dalam sanubari, "Husnudzon yang keliru jauh lebih baik dari pada Suudzon yang benar." Bukankah dauh beliau harus kita wanti², jangan hanya didengari; resapi kemudian jadikan pegangan di kehidupan dunia fana ini.
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar