Setidaknya kita sudah bersama² mendermakan segala-galanya sepenuh hati. Hasil yang diraup mungkin tidak saat ini, insya ALLOH di kemudian hari, bukankah para petangguh sangat segan dihormati lantaran tidak pernah ingin dipuji, bukankah para pejuang mengisap kehidupan ini dengan cara dinikmati dan disyukuri, bukan sedikit² merintih untuk dikasihani. Pecundang ulung berkata dengan ciri khasnya yang mau menang sendiri, "Hidup ini penuh simpati, sehingga siapa saja yang bekerja secara sosial pasti hanya ingin dipuji." Sungguh, pernyataan tersebut sangat jauh dari kodratnya sebagai insani. Kalau pernyataannya ditangkap sebagai kebenaran hakiki, terus bagaimana dengan para pejuang yang gagah berani rela mati? Mungkin dalam hal ini kita sangat perlu menanamkan Kalam Hikmah Kyai Nawawi Sidogiri dalam sanubari, "Husnudzon yang keliru jauh lebih baik dari pada Suudzon yang benar." Bukankah dauh beliau harus kita wanti², jangan hanya didengari; resapi kemudian jadikan pegangan di kehidupan dunia fana ini.
Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...
Komentar
Posting Komentar