Setidaknya kita sudah bersama² mendermakan segala-galanya sepenuh hati. Hasil yang diraup mungkin tidak saat ini, insya ALLOH di kemudian hari, bukankah para petangguh sangat segan dihormati lantaran tidak pernah ingin dipuji, bukankah para pejuang mengisap kehidupan ini dengan cara dinikmati dan disyukuri, bukan sedikit² merintih untuk dikasihani. Pecundang ulung berkata dengan ciri khasnya yang mau menang sendiri, "Hidup ini penuh simpati, sehingga siapa saja yang bekerja secara sosial pasti hanya ingin dipuji." Sungguh, pernyataan tersebut sangat jauh dari kodratnya sebagai insani. Kalau pernyataannya ditangkap sebagai kebenaran hakiki, terus bagaimana dengan para pejuang yang gagah berani rela mati? Mungkin dalam hal ini kita sangat perlu menanamkan Kalam Hikmah Kyai Nawawi Sidogiri dalam sanubari, "Husnudzon yang keliru jauh lebih baik dari pada Suudzon yang benar." Bukankah dauh beliau harus kita wanti², jangan hanya didengari; resapi kemudian jadikan pegangan di kehidupan dunia fana ini.
Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...
Komentar
Posting Komentar