Setidaknya kita sudah bersama² mendermakan segala-galanya sepenuh hati. Hasil yang diraup mungkin tidak saat ini, insya ALLOH di kemudian hari, bukankah para petangguh sangat segan dihormati lantaran tidak pernah ingin dipuji, bukankah para pejuang mengisap kehidupan ini dengan cara dinikmati dan disyukuri, bukan sedikit² merintih untuk dikasihani. Pecundang ulung berkata dengan ciri khasnya yang mau menang sendiri, "Hidup ini penuh simpati, sehingga siapa saja yang bekerja secara sosial pasti hanya ingin dipuji." Sungguh, pernyataan tersebut sangat jauh dari kodratnya sebagai insani. Kalau pernyataannya ditangkap sebagai kebenaran hakiki, terus bagaimana dengan para pejuang yang gagah berani rela mati? Mungkin dalam hal ini kita sangat perlu menanamkan Kalam Hikmah Kyai Nawawi Sidogiri dalam sanubari, "Husnudzon yang keliru jauh lebih baik dari pada Suudzon yang benar." Bukankah dauh beliau harus kita wanti², jangan hanya didengari; resapi kemudian jadikan pegangan di kehidupan dunia fana ini.
Pribahasa populer, "Jika orang tua jatuh ke dalam sumur, anak sibuk mencari tangga untuk menolongnya. Berbeda jika anak yang jatuh ke dalam sumur, orang tua langsung terjun bebas untuk menyelamatkannya." Orang tua tidak berpikir dua kali ketika anak dalam keadaan darurat, mereka spontan akan menyelamatkan meski nyawa yang harus dipertaruhkan. Hal seperti ini tidak pernah terlintas dalam pikiran sering dikerjakan oleh orang tua, mereka rela mengorbankan nyawa asalkan sang anak tetap baik-baik saja. Ini menjadi salah satu wujud cinta dan sayang orang tua kepada anaknya. Di saat bahaya mengancam, orang tua hadir dengan gagah berani menjadi perisai sang buah hati. Di tengah-tengah problematika hidup yang datang silih berganti. Belum juga selesai masalah yang satu, datang masalah baru. Tidak bisa dipungkiri, sebagai fitrah manusia, pengorbanan dan perjuangan akan senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Terutama orang tua, masalah datang bukan hanya dari satu sisi, melainkan d...
Komentar
Posting Komentar