Langsung ke konten utama

NASRUL ILMI

Dalam perjuangan butuh pengurbanan yang harus ditempuh oleh siapapun, termasuk dalam menyebarkan ilmu² ALLOH yang sangat luas. Namun demikian bukanlah hal sulit bagi seseorang yang mempunyai HIMMAH yang tinggi. Laut dan gunungpun akan dia seberangi. Begitupun semok belukar yang ingin menghadangi jalannya pasti dia babat habis. Begitulah kira² pejuang sejati. Dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat awam butuh kesabaran, ketelatenan dan keikhlasan, tidak gampang mengeluh dan putus asa karena satu atau dua kali tidak didengarkan. 


Nasril Ilmi yang satu ini adalah guru kami waktu masih TK. Beliau pribadi orang yang sangat ikhlas dan tawaddu'nya masya ALLOH tidak diragukan lagi. Kealiman dan kesederhanaannya membuat beliau selalu menjadi emas di manapun berada, sosoknya yang sangat lembut dan mudah bergaul dengan siapapun mengantarkan beliau pada publik figur yang layak dijadikan cermin oleh para pelajar di era modern ini. 

Moh toyyib GK, 18 Dzulhijjah```






Banyak nasehat bijak yang beliau sampaikan pada kami diantaranya "belajar ilmu itu harus semangat, jangan gampang puas terus merasa kurang dan hati² terhadap perkara syubhat takut ilmunya tidak memfaat. Sedikit tapi menfaat itu lebih barokah bagi masyarakat tatkala nanti sudah boyong dari pondok pesantren". 


Rasanya, sebutir kata ini tidak mewakili sosok teladan seperti beliau. Semoga ajunan selalu diberikan kesehatan, keberkehan dan kemudahan dalam segala hal. Aamiin


Gunung kesan, 18 Dzulhijjah 1442 H



  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

USIA PRODUKTIF HANYA SEKEDAR NAMA

 Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...