Di kedai-kedai kopi mereka hidup dalam ketidakpastian, kata orang² yang asik dengan kitab dan bukunya di kamar. Bagi mereka yang rajin mengumpulkan naskah² modern di Warkopiah tentu mengeluarkan statement lain, dari kedai-kedai kopi seseorang bisa menemukan inspirasi. Dua perkataan tersebut sama² benar dan sama² salah. 😁 Buktinya di kedai kopi yang melahirkan karya² fenomenal, tapi dari ghurfah para Ulama' juga melahirkan karya² yang sangat fenomenal. Coba perhatikan bukunya Roem topatimasing guru keliling pernah menuliskan dalam karyanya, "Setiap tempat: sekolah, Setiap orang: guru, setiap buku: ilmu." Bukankah pernyataan beliau ini menepis orang antipati dan mengandalkan egonya. Satu lagi pernyataan KH. Dewantara tokoh nasional, "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Dengan perkembangan zaman tentu perlu ada Mujaddid, tambahan tanpa harus dinusakh (نسخ) "setiap Kedai kopi adalah tempat belajar." 🤭 Janganlah menjadi pribadi yang terus menghakimi mereka² yang asik dengan dunianya. 🙃
Pribahasa populer, "Jika orang tua jatuh ke dalam sumur, anak sibuk mencari tangga untuk menolongnya. Berbeda jika anak yang jatuh ke dalam sumur, orang tua langsung terjun bebas untuk menyelamatkannya." Orang tua tidak berpikir dua kali ketika anak dalam keadaan darurat, mereka spontan akan menyelamatkan meski nyawa yang harus dipertaruhkan. Hal seperti ini tidak pernah terlintas dalam pikiran sering dikerjakan oleh orang tua, mereka rela mengorbankan nyawa asalkan sang anak tetap baik-baik saja. Ini menjadi salah satu wujud cinta dan sayang orang tua kepada anaknya. Di saat bahaya mengancam, orang tua hadir dengan gagah berani menjadi perisai sang buah hati. Di tengah-tengah problematika hidup yang datang silih berganti. Belum juga selesai masalah yang satu, datang masalah baru. Tidak bisa dipungkiri, sebagai fitrah manusia, pengorbanan dan perjuangan akan senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Terutama orang tua, masalah datang bukan hanya dari satu sisi, melainkan d...
Komentar
Posting Komentar