Di kedai-kedai kopi mereka hidup dalam ketidakpastian, kata orang² yang asik dengan kitab dan bukunya di kamar. Bagi mereka yang rajin mengumpulkan naskah² modern di Warkopiah tentu mengeluarkan statement lain, dari kedai-kedai kopi seseorang bisa menemukan inspirasi. Dua perkataan tersebut sama² benar dan sama² salah. 😁 Buktinya di kedai kopi yang melahirkan karya² fenomenal, tapi dari ghurfah para Ulama' juga melahirkan karya² yang sangat fenomenal. Coba perhatikan bukunya Roem topatimasing guru keliling pernah menuliskan dalam karyanya, "Setiap tempat: sekolah, Setiap orang: guru, setiap buku: ilmu." Bukankah pernyataan beliau ini menepis orang antipati dan mengandalkan egonya. Satu lagi pernyataan KH. Dewantara tokoh nasional, "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Dengan perkembangan zaman tentu perlu ada Mujaddid, tambahan tanpa harus dinusakh (نسخ) "setiap Kedai kopi adalah tempat belajar." 🤭 Janganlah menjadi pribadi yang terus menghakimi mereka² yang asik dengan dunianya. 🙃
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar