Di kedai-kedai kopi mereka hidup dalam ketidakpastian, kata orang² yang asik dengan kitab dan bukunya di kamar. Bagi mereka yang rajin mengumpulkan naskah² modern di Warkopiah tentu mengeluarkan statement lain, dari kedai-kedai kopi seseorang bisa menemukan inspirasi. Dua perkataan tersebut sama² benar dan sama² salah. 😁 Buktinya di kedai kopi yang melahirkan karya² fenomenal, tapi dari ghurfah para Ulama' juga melahirkan karya² yang sangat fenomenal. Coba perhatikan bukunya Roem topatimasing guru keliling pernah menuliskan dalam karyanya, "Setiap tempat: sekolah, Setiap orang: guru, setiap buku: ilmu." Bukankah pernyataan beliau ini menepis orang antipati dan mengandalkan egonya. Satu lagi pernyataan KH. Dewantara tokoh nasional, "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Dengan perkembangan zaman tentu perlu ada Mujaddid, tambahan tanpa harus dinusakh (نسخ) "setiap Kedai kopi adalah tempat belajar." 🤭 Janganlah menjadi pribadi yang terus menghakimi mereka² yang asik dengan dunianya. 🙃
Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...
Komentar
Posting Komentar