Di kedai-kedai kopi mereka hidup dalam ketidakpastian, kata orang² yang asik dengan kitab dan bukunya di kamar. Bagi mereka yang rajin mengumpulkan naskah² modern di Warkopiah tentu mengeluarkan statement lain, dari kedai-kedai kopi seseorang bisa menemukan inspirasi. Dua perkataan tersebut sama² benar dan sama² salah. 😁 Buktinya di kedai kopi yang melahirkan karya² fenomenal, tapi dari ghurfah para Ulama' juga melahirkan karya² yang sangat fenomenal. Coba perhatikan bukunya Roem topatimasing guru keliling pernah menuliskan dalam karyanya, "Setiap tempat: sekolah, Setiap orang: guru, setiap buku: ilmu." Bukankah pernyataan beliau ini menepis orang antipati dan mengandalkan egonya. Satu lagi pernyataan KH. Dewantara tokoh nasional, "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah." Dengan perkembangan zaman tentu perlu ada Mujaddid, tambahan tanpa harus dinusakh (نسخ) "setiap Kedai kopi adalah tempat belajar." 🤭 Janganlah menjadi pribadi yang terus menghakimi mereka² yang asik dengan dunianya. 🙃
Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...
Komentar
Posting Komentar