Untuk memancing ikan maka butuh yang namanya umpan. Entah itu berupa cacing atau bangkai ayam. Begitu juga dalam menebar ilmu dan perjalanan ulama' yang bisa menginspirasi orang yang ada di zaman setelahnya. Kalangan selebriti Indonesia seperti Raffi Ahmad memajang foto kuality teamnya dengan keluarga atau pesona kecantikan Nagita Slavina dengan caption promo produk kecantikan dan endoresnya. Saya tidak heran, karena itu bagian dari marketing atau kalau dalam bahasa kita Gambar hanya pemanis atau penyempurna, intinya adalah ilmu dan edukasi. Santri juga harus berperan dengan segala apa yang dia miliki dari keilmuan, penampilan dan daya tarik yang dimiliki, karena sekarang kita hidup di zaman yang serba narsis. Saya terkadang heran sama teman² yang lebih fokus pada ilustrasi status di sosial media dengan caption yang penuh edukasi dia lewati tidak dibaca. Padahal beliau update status itu intisarinya adalah ilmu yang ada di caption akun pribadi beliau bukan gambarnya.
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar