Untuk memancing ikan maka butuh yang namanya umpan. Entah itu berupa cacing atau bangkai ayam. Begitu juga dalam menebar ilmu dan perjalanan ulama' yang bisa menginspirasi orang yang ada di zaman setelahnya. Kalangan selebriti Indonesia seperti Raffi Ahmad memajang foto kuality teamnya dengan keluarga atau pesona kecantikan Nagita Slavina dengan caption promo produk kecantikan dan endoresnya. Saya tidak heran, karena itu bagian dari marketing atau kalau dalam bahasa kita Gambar hanya pemanis atau penyempurna, intinya adalah ilmu dan edukasi. Santri juga harus berperan dengan segala apa yang dia miliki dari keilmuan, penampilan dan daya tarik yang dimiliki, karena sekarang kita hidup di zaman yang serba narsis. Saya terkadang heran sama teman² yang lebih fokus pada ilustrasi status di sosial media dengan caption yang penuh edukasi dia lewati tidak dibaca. Padahal beliau update status itu intisarinya adalah ilmu yang ada di caption akun pribadi beliau bukan gambarnya.
Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...
Komentar
Posting Komentar