Untuk memancing ikan maka butuh yang namanya umpan. Entah itu berupa cacing atau bangkai ayam. Begitu juga dalam menebar ilmu dan perjalanan ulama' yang bisa menginspirasi orang yang ada di zaman setelahnya. Kalangan selebriti Indonesia seperti Raffi Ahmad memajang foto kuality teamnya dengan keluarga atau pesona kecantikan Nagita Slavina dengan caption promo produk kecantikan dan endoresnya. Saya tidak heran, karena itu bagian dari marketing atau kalau dalam bahasa kita Gambar hanya pemanis atau penyempurna, intinya adalah ilmu dan edukasi. Santri juga harus berperan dengan segala apa yang dia miliki dari keilmuan, penampilan dan daya tarik yang dimiliki, karena sekarang kita hidup di zaman yang serba narsis. Saya terkadang heran sama teman² yang lebih fokus pada ilustrasi status di sosial media dengan caption yang penuh edukasi dia lewati tidak dibaca. Padahal beliau update status itu intisarinya adalah ilmu yang ada di caption akun pribadi beliau bukan gambarnya.
Pribahasa populer, "Jika orang tua jatuh ke dalam sumur, anak sibuk mencari tangga untuk menolongnya. Berbeda jika anak yang jatuh ke dalam sumur, orang tua langsung terjun bebas untuk menyelamatkannya." Orang tua tidak berpikir dua kali ketika anak dalam keadaan darurat, mereka spontan akan menyelamatkan meski nyawa yang harus dipertaruhkan. Hal seperti ini tidak pernah terlintas dalam pikiran sering dikerjakan oleh orang tua, mereka rela mengorbankan nyawa asalkan sang anak tetap baik-baik saja. Ini menjadi salah satu wujud cinta dan sayang orang tua kepada anaknya. Di saat bahaya mengancam, orang tua hadir dengan gagah berani menjadi perisai sang buah hati. Di tengah-tengah problematika hidup yang datang silih berganti. Belum juga selesai masalah yang satu, datang masalah baru. Tidak bisa dipungkiri, sebagai fitrah manusia, pengorbanan dan perjuangan akan senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Terutama orang tua, masalah datang bukan hanya dari satu sisi, melainkan d...
Komentar
Posting Komentar