Langsung ke konten utama

JANGAN TERGESA-GESA

 Tulisan ini bukan pembelaan bagi kaum yang sedang disiapkan pasangan Sholeha, bukan pula dalil untuk terus mengalihkan pertanyaan orang² di luar sana. Tulisan ini murni kata hati saya, tanpa ada unsur apa². Ada tiga hal yang tidak pernah saya post di sosial Media, yaitu Perogres, Pleaning dan tentang cinta. Karena itu hal yang sangat privasi tidak ada yang boleh tahu kecuali saya pribadi dan sang pencipta. Mencari sosok teladan mendampingi suka dan duka tidaklah segampang apa yang dikatakan mereka. Seperti mencari pacar dengan obral kata² cinta, tanpa ada bukti yang nyata. sulit, butuh ketelitian, kesungguhan ikhtiar dan melangitkan doa². 


Banyak dalil Al-Qur'an dan hadits Rosulullah tentang pentingnya berumah tangga, tapi juga banyak anjuran untuk selektif dalam memilih wanita, sebagai sosok pelipur lara. Sebagaimana Sayyidah Khodijah menjadi sosok yang selalu mensupport baginda ketika tidak diterima dakwahnya dimana-mana. Terus membangkitkan semangat jiwanya dengan menanamkan rasa percaya diri kepada baginda, kalau ALLOH tidak akan pernah membiarkan suami tercintanya terus menelan luka. Pasti tiba saatnya Islam yang di bawa oleh beliau akan terus jaya, hingga Malaikat Isrofil meniup sangkakala. Bukti sukses dakwah Rosululloh dalam menyampaikan risalah kenabian karena ada wanita hebat di belakangnya, yakni Peran penting Sayyidah Khodijah Rodiyallohu Anha. 


Seperti halnya Mamu dan Zein yang tidak pernah disangka² akan bertemu di suatu pesta, tanpa tegur sapa, tapi bola mata Zein yang bulat dengan alis yang rapi membuat Mamu jatuh sakit dalam penasaran bayang² putri button yang cantik nan jelita. Hingga pada akhirnya mereka disatukan dengan kesucian cinta yang diliputi oleh ridhonya, bukan murkanya. Jadi, tidak usah khawatir akan kehabisan stok wanita, semuanya sudah diatur oleh sang maha cinta, cuma waktunya saja yang masih menjadi misteri dunia. Tetap terus langitkan doa² di sepertiga malam dengan derai air mata, semoga dan semoga wanita itu datang dengan penuh keanggunannya. Aamiin


رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ زَوْجَةً طَيِّبَةً أَخْطُبُهَا وَأَتَزَوَّجُ بِهَا وَتَكُوْنُ صَاحِبَةً لِى فِى الدِّيْنِ وَالدُنْيَا وَالْأَخِرَةِ


Catatan Mtz. Vol 56

Panyeppen, 15 Shoffar 1443 H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

USIA PRODUKTIF HANYA SEKEDAR NAMA

 Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...