Ketika sesuatu yang kita cintai hilang, maka kita akan merasa menyesal. Semakin banyak di dunia ini yang kita cintai maka semakin banyak pula penyesalan yang sedang menunggu. Begitupun sebaliknya semakin sedikit yang kita cintai, maka semakin sedikit pula penyesalan yang berujung kenangan. Tatkala temanku di warung kopi karang manggis mengatakan, betapa menyesalnya saya mat karena tidak bisa mendapatkan gadis cantik dengan pesona lekuk tubuhnya yang indah itu, kemudian saya berguman dalam hati. kamu hanya menyesal karena tidak bisa mendapatkannya, sedangkan saya menyesalkan wanita yang sudah dalam genggaman, dan kadar sakitnya tidak seberapa dibandingkan pernah dimiliki kemudian pergi. Bukankah kehilangan anak jauh lebih menyedihkan daripada tidak bisa mempunyai anak.? Ketika kita sudah bersama dengan yang kita cintai itu berangsur lama, maka ketika hilang rasa sedih itu akan terus bersarang dalam lubuk hati. Toh, pada kenyataan kesedihan itu tidak seberapa dibandingkan dengan kesenangannya selama ini !
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar