Ketika sesuatu yang kita cintai hilang, maka kita akan merasa menyesal. Semakin banyak di dunia ini yang kita cintai maka semakin banyak pula penyesalan yang sedang menunggu. Begitupun sebaliknya semakin sedikit yang kita cintai, maka semakin sedikit pula penyesalan yang berujung kenangan. Tatkala temanku di warung kopi karang manggis mengatakan, betapa menyesalnya saya mat karena tidak bisa mendapatkan gadis cantik dengan pesona lekuk tubuhnya yang indah itu, kemudian saya berguman dalam hati. kamu hanya menyesal karena tidak bisa mendapatkannya, sedangkan saya menyesalkan wanita yang sudah dalam genggaman, dan kadar sakitnya tidak seberapa dibandingkan pernah dimiliki kemudian pergi. Bukankah kehilangan anak jauh lebih menyedihkan daripada tidak bisa mempunyai anak.? Ketika kita sudah bersama dengan yang kita cintai itu berangsur lama, maka ketika hilang rasa sedih itu akan terus bersarang dalam lubuk hati. Toh, pada kenyataan kesedihan itu tidak seberapa dibandingkan dengan kesenangannya selama ini !
Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...
Komentar
Posting Komentar