Langsung ke konten utama

DI BALIK JUDUL SKRIPSI DAKWAH BI AL QOLAM

Setelah cukup lama menjadi Mahasiswa kampus yang ada di bawah naungan pesantren, menganut paham Aqidah Ahlusunah Wa Al Jamaah Secara paten, dengan konsep dasar As'ariyah dan Maturidiyeh, tapi semua aliran sempalan tetap dikaji agar bisa ditemukan benang kusutnya. Karena mahasiswa itu bukan hanya pasif tanpa menelaah. Akal sebagai mudal untuk mengukur benar atau tidaknya suatu perkara yang diikuti. Tadi sebelum Jum'at saya melaksanakan sidang Skripsi dengan judul Dakwah Bi Al Qolam dalam gerakan Santri menulis berjalan dengan lancar di bawah bimbingan dosen² terkhormat IAIMU Pamekasan. Terima kasih atas segala masukan dan krititikan untuk pengembangan diri ini yang sangat lemah dan dahaga akan ilmu pengetahuan. 


Wacana judul Skripsi ini sebetulnya sudah lama ada dalam fikiran, melihat perkembangan zaman tekhnologi yang semakin pesat membelah ruang dan waktu. Lebih-lebih dalam kegiatan dakwah yang menurut sebagian orang awam hanya fokus di atas podium dengan metode ceramah. Padahal, dakwah itu banyak macam ragamnya, diantaranya dengan metode dakwah Bi Al Hal yang bergerak diorganisasi kemasyarakatan, seperti lembaga Amal infak dan shodaqoh, selain juga dakwah Bi Al Lisan dan Dakwah Bi Al Hal juga ada dakwah Bi Al Qolam yang spesifikasi dalam tulisan. Mahasiswa Prodi Dakwah dengan slogannya agent of chenge dan agent of sosial control harus bisa menguasai ketiga metode di atas, dengan melihat mitra dakwah yang sebagian jumlah besar manusia banyak menghabiskan di sosial media. Tentu hal ini kesempatan dan peluang besar untuk melebarkan sayap dakwah. Sesuai ayat yang berbunyi 

بلغو عني ولو اية

Artinya, "Sampaikanlah padaku walau hanya satu ayat." Tugas dakwah kalau merujuk pada Hadist di atas maka setiap muslim wajib untuk berperan sebagai seorang da'i, tapi untuk makna yang lebih spesifik seorang da'i harus menguasai semua bidang ilmu pengetahuan, bukan mmebaca satu kitab dan buku lantas sudah bisa menjadi da'i sejati. Tidak 


Menorehkan apa yang terjadi pada saat ini agar bisa dinikmati oleh generasi muda yang akan datang salahsatunya dengan cara menulis hingga menjadi sebuah karya. Coba bayangkan jika Al Qur'an, Al Hadist dan kitab-kitab klasik yang dikarang oleh Ulama-ulama salaf tidak dibukukan maka ummat ini akan kebingungan tidak tahu arah. Fasilitas semakin mudah sebenarnya harus lebih baik, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dalam buku management waktu ulama' karangan Syeikh Abdul Fattah menceritakan ada ulama' yang hanya mempunyai uang cukup untuk makan, disamping itu beliau ingin membeli kertas untuk menulis kitab. Alhasil beliau rela tidak makan dan membeli kertas untuk menulis kitab. Tapi pada akhir cerita Alloh mengirimkan makanan melalui perantara orang lain. Menulis adalah ibadah dan pekerjaannya sangat mudah lebih-lebih di zaman sekarang yang sangat lengkap, tidak usah beli buku, bolpen cari referensi tidak usah ke perpustakaan cukup browsing. Apanya yang sulit? Banyak ayat dan hadist nabi menjelaskan tentang perintah untuk menulis diantaranya dalam suroh Al-Alaq;

الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِۙ

Artinya, "Yang mengajar (manusia) dengan pena" dalam Hadist Rosululloh juga dianjurkan sangat menulis, 

ﻭَﻗَﺪْ ﻭَﺭَﺩَ ﻓِﻲ ﺍْﻟَﺎﺛَﺮِ ﻋَﻦْ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﺻَﻠﻰَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺍَﻧَّﻪُ ﻗﺎَﻝَ : ﻣَﻦْ ﻭَﺭَّﺥَ ﻣُﺆْﻣِﻨﺎَ ﻓَﻜَﺄَﻧﻤَّﺎَ ﺍَﺣْﻴﺎَﻩُ ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺗﺎَﺭِﻳْﺨَﻪُ ﻓَﻜَﺄَﻧﻤَّﺎَ ﺯَﺍﺭَﻩُ ﻓَﻘَﺪْ ﺍﺳْﺘًﻮْﺟَﺐَ ﺭِﺿْﻮَﺍﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓﻲِ ﺣُﺰُﻭْﺭِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ .


Rasulullah Saw.bersabda: “Barangsiapa membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama saja ia telah menghidupkannya kembali.Dan barangsiapa membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya. Maka Allah akan menganugerahinya ridhaNya dengan memasukkannya di surga.”. Keabadian ulama-ulama itu karena sipak terjangnya dalam membukukan hingga bisa dilihat oleh generasi berikutnya, bukan karena nasabnya. Andaikan beliau² tidak pernah menuliskan hasil ijtihad dan gagasannya, maka kecerdasan intelektual itu habis ditelan oleh zaman. Tapi mereka sadar hal itu adalah ibadah jariyah yang akan terus menjadi pahala ketika dia sudah tidak ada. Sebagaimana Ibru Jarir At Thobari dan ulama-ulama lain yang sudah di tuliskan dalam kitabnya Syekh Abdul Fattah 

العلماء العزاب 

Mereka sudah wafat tapi masih ada pahala yang terus mengalir dari kitab-kitab yang mereka karang, meskipun mereka tidak beristri dan tidak mempunyai keturunan untuk mendoakannya. 


Panyeppen, 22 Oktober 2021 M

Catatan Mtz


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PEREMPUAN DAN PANGGUNG SPIRITUAL

Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia.  Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi.  Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman.  Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...

SANTUNAN ANAK YATIM DAN PRIVASI YANG PERLU DIJAGA

Muharrom sangat erat kaitannya dengan perhatian terhadap anak yatim piatu, bahkan sebagian besar masyarakat menyebutnya salah satu hari dalam bulan Muharram (tanggal 10 Asyura) sebagai hari raya anak yatim. Sepanjang bulan Muharram, terutama pada tanggal 10 tersebut, berbagai kegiatan santunan untuk anak yatim diadakan di berbagai tempat dan lembaga. Pada umumnya, panitia kegiatan santunan anak yatim akan menyelenggarakan acara pengajian dengan mengundang pendakwah dan menghadirkan sejumlah anak yatim piatu yang terdata di masing-masing desa. Pada akhir acara, setiap anak yatim piatu akan diberikan amplop berisi uang secara perorangan di atas panggung." Pada sesi ini, biasanya para pemberi sedekah dan zakat diminta untuk naik ke atas panggung untuk bersalaman, mengusap rambut anak-anak yatim piatu, serta berfoto bersama. Meskipun terlihat sebagai rutinitas biasa yang selalu ada dalam peringatan 10 Muharram (Asyuro), sudahkah kita pernah mempertimbangkan perasaan anak-anak yatim pi...

MENGHILANGKAN STIGMA GEN Z

Generasi Z sering kali menjadi subyek perdebatan hangat di tengah derasnya arus perubahan zaman. Masyarakat, terutama generasi sebelumnya, kerap kali memandang gen Z dengan sorotan kritis.  Mereka melabeli generasi muda ini sebagai generasi lemah yang terlalu fokus pada kesehatan mental. Ada juga yang bilang mereka generasi instan yang menginginkan segalanya serba cepat. Bahkan, melabeli dengan sebutan generasi stroberi yang dianggap enak dilihat, kreatif, tetapi rapuh alias mudah hancur. Fokus genZ pada kesehatan mental itu sebangun dengan anggapan bahwa mereka demen healing. Ini kemudian mengarahkan generasi lain untuk menyebut gen Z sebagai kelompok yang tak mampu bekerja di bawah tekanan. Generasi Z atau gen Z adalah generasi yang muncul setelah gen Y. Banyak yang melihat secara berbeda tentang tahun lahir gen Z. Umumnya mencakup mereka yang lahir dari pertengahan hingga akhir 1990-an sampai awal 2010-an. Secara lebih spesifik, banyak ahli dan peneliti menetapkan rentang tahun ...