Prof Nadirsyah pernah pernah menulis di bukunya, "Sharing sebelum Shering", "Tidak ada buku yang tidak bagus, tergantung bagaimana kecerdasan si pembaca memahaminya. Semakin orang tersebut IQ-nya cerdas, maka semakin luas pula pemaham yang akan didapat." Sengaja kami mencomot tulisan beliau, agar para dedemit tidak gagal paham. Setelah membaca tulisan Syekh Buthi tentang Sayyidah Aisyah kali ini tulisan Aba Mehmed Aga ingin menyelami lebih jauh lagi pribdai² Ummil Mukminin, bukan ingin mencari perbandingan dengan menjustifikasi salah satunya lebih unggul; tidak, ini hanya rasa penasaran pada dua sosok Perempuan agung dengan akhlak dan kemuliaannya yang tinggi. Hitung² nanti agar ada yang mau diobrolin dengan istri sebelum tidur. Asikkkkk.🤣 Sayyidah Khodijah dengan pengurbanan jiwa, raga dan hartanya mendampingi dakwah Kanjeng Nabi periode awal² Islam dan Sayyidah Aisyah dengan kecerdasan di atas rata² menjadi rujukan para sahabat² pasca wafatnya Kanjeng Nabi. Beliau berdua sama² kecintaan baginda. 🤲🏻
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar