Ibnu Al Jauzi menggiring kita untuk selalu mengambil menfaat dari apa yang kita kerjakan. Tentunya sebagai makhluk ciptaan ALLOH yang sempurna dan akal sebagai mudal utama mengantarkan manusia sebagai sosok malaikat, tapi jika hawa nafsu berperan sebagai Imam dan akal sebagai Makmum tentu ini malapetaka yang nyata, karena saat itu juga manusia yang asal derajatnya lebih tinggi dari malaikat akan turun lebih hina daripada binatang buas (الفحوش). Dalam diri manusia ada tiga komponen penting, yang pertama adalah الجزء العقلي yang sisi keutamaanny adalah Ilmu dan sisi ketercelaannya kebodohan, yang kedua الجزء الغضبي yang sisi keutamaannya adalah ketegasan dan sisi ketercelaannya pengecut dan yang ketiga الجزء الشهوني yang sisi keutamaannya adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak baik dan sisi ketercelaannya tidak terkendalinya hawa nafsu. Tiga komponen ini yang kemudian oleh Ibnu Al Jauzi dijadikan rumus untuk mempermudah manusia dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari.
Dulu, perempuan rahasia langit. Langkahnya pelan, tunduknya dalam. Ia dilukis dalam sejarah sebagai simbol kelembutan. Bukan dijadikan objek dan dieksploitasi di altar pertunjukan yang katanya majelis sholawat. Perempuan sudah kehilangan eksistensinya dari penjaga nurani menjadi pelayan euforia. Mereka menutup aurat, yes betul. Tapi hanya sekedar bungkus. Isinya goyang ngolek, goyang keramas. Dua istilah yang lebih cocok muncul di warung remang-remang daripada di acara yang konon katanya mejelis cinta Nabi. Dalam pemikiran Simon de Beauvoir: "Perempuan tidak dilahirkan sebagai objek, tapi dibuat menjadi objek oleh struktur budaya". Tapi hari ini, di pentas absurd mereka bukan hanya menjadi objek. Tapi mereka sendiri yang mejadikan objek sebagai dalih ekspresi iman. Gerakan tubuh yang menggeliat di atas panggung bukan bentuk ekspresi spiritual. Itu adalah penghinaan simbolik pada kemulian perempuan. Lantas, di mana rasa malunya? Di mana harkat dan martabatnya? Apakah me...
Komentar
Posting Komentar