Ibnu Al Jauzi menggiring kita untuk selalu mengambil menfaat dari apa yang kita kerjakan. Tentunya sebagai makhluk ciptaan ALLOH yang sempurna dan akal sebagai mudal utama mengantarkan manusia sebagai sosok malaikat, tapi jika hawa nafsu berperan sebagai Imam dan akal sebagai Makmum tentu ini malapetaka yang nyata, karena saat itu juga manusia yang asal derajatnya lebih tinggi dari malaikat akan turun lebih hina daripada binatang buas (الفحوش). Dalam diri manusia ada tiga komponen penting, yang pertama adalah الجزء العقلي yang sisi keutamaanny adalah Ilmu dan sisi ketercelaannya kebodohan, yang kedua الجزء الغضبي yang sisi keutamaannya adalah ketegasan dan sisi ketercelaannya pengecut dan yang ketiga الجزء الشهوني yang sisi keutamaannya adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak baik dan sisi ketercelaannya tidak terkendalinya hawa nafsu. Tiga komponen ini yang kemudian oleh Ibnu Al Jauzi dijadikan rumus untuk mempermudah manusia dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari.
Menurut data terbaru badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, persentase penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia yang tergolong ke dalam kategori NEET (not in education, employment, or training) mencapai 22,25 persen dari total penduduk dalam kelompok usia tersebut. Fenomena ini sangat mengejutkan. Sebab, hal itu berarti hampir seperempat dari populasi muda di Indonesia (biasa disebut gen Z), yang sebetulnya berada dalam rentang usia produktif, ternyata tidak terlibat dalam aktivitas pendidikan, pekerjaan, atau pelatihan apa pun. Mereka, dengan kata lain, adalah penganggur! Usia produktif seharusnya menjadi penopang bagi penduduk usia nonproduktif. Mereka mendukung kebutuhan ekonomi dan sosial populasi yang lebih muda dan lebih tua. Namun, tingginya tingkat pengangguran di kalangan gen Z mengacaukan keseimbangan ini. Alih-alih berperan sebagai penopang, mereka malah ikut menjadi beban yang harus ditopang. Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, tentu akan sangat membahayakan. Seb...
Komentar
Posting Komentar