Ibnu Al Jauzi menggiring kita untuk selalu mengambil menfaat dari apa yang kita kerjakan. Tentunya sebagai makhluk ciptaan ALLOH yang sempurna dan akal sebagai mudal utama mengantarkan manusia sebagai sosok malaikat, tapi jika hawa nafsu berperan sebagai Imam dan akal sebagai Makmum tentu ini malapetaka yang nyata, karena saat itu juga manusia yang asal derajatnya lebih tinggi dari malaikat akan turun lebih hina daripada binatang buas (الفحوش). Dalam diri manusia ada tiga komponen penting, yang pertama adalah الجزء العقلي yang sisi keutamaanny adalah Ilmu dan sisi ketercelaannya kebodohan, yang kedua الجزء الغضبي yang sisi keutamaannya adalah ketegasan dan sisi ketercelaannya pengecut dan yang ketiga الجزء الشهوني yang sisi keutamaannya adalah menjaga diri dari sesuatu yang tidak baik dan sisi ketercelaannya tidak terkendalinya hawa nafsu. Tiga komponen ini yang kemudian oleh Ibnu Al Jauzi dijadikan rumus untuk mempermudah manusia dalam melaksanakan rutinitas sehari-hari.
Pribahasa populer, "Jika orang tua jatuh ke dalam sumur, anak sibuk mencari tangga untuk menolongnya. Berbeda jika anak yang jatuh ke dalam sumur, orang tua langsung terjun bebas untuk menyelamatkannya." Orang tua tidak berpikir dua kali ketika anak dalam keadaan darurat, mereka spontan akan menyelamatkan meski nyawa yang harus dipertaruhkan. Hal seperti ini tidak pernah terlintas dalam pikiran sering dikerjakan oleh orang tua, mereka rela mengorbankan nyawa asalkan sang anak tetap baik-baik saja. Ini menjadi salah satu wujud cinta dan sayang orang tua kepada anaknya. Di saat bahaya mengancam, orang tua hadir dengan gagah berani menjadi perisai sang buah hati. Di tengah-tengah problematika hidup yang datang silih berganti. Belum juga selesai masalah yang satu, datang masalah baru. Tidak bisa dipungkiri, sebagai fitrah manusia, pengorbanan dan perjuangan akan senantiasa mewarnai kehidupan sehari-hari. Terutama orang tua, masalah datang bukan hanya dari satu sisi, melainkan d...
Komentar
Posting Komentar